Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Wednesday, 14 July 2021

MODUL DIGITAL BAHASA INDONESIA INTERAKTIF

MODUL DIGITAL BAHASA INDONESIA INTERAKTIF




 MODUL DIGITAL INTERAKTIF 

Modul interaktif ini bisa digunakan menggunakan Handphone ataupun PC, berisi pembelajaran yang lebih interaktif dengan integrasi video, suara, teks, quis dan lain-lain, Sehingga memudahkan dan membuat peserta didik lebih cepat memahami materi Bahasa Indonesia, SMP kelas VII, SMP kelas VIII, SMP kelas IX, dan SMA kelas X, SMA kelas XI, dan SMA kelas XII.


Modul Digital Interaktiv SMP Semester 1

Modul Digital interaktif Bahasa Indonesia kelas VII

Modul Digital interaktif Bahasa Indonesia kelas VIII

Modul Digital interaktif Bahasa Indonesia kelas IX


Modul Digital Interaktiv SMP Semester II

Modul Digital interaktif Bahasa Indonesia kelas VII

Modul Digital interaktif Bahasa Indonesia kelas VIII

Modul Digital interaktif Bahasa Indonesia kelas IX


Modul Digital Interaktiv SMA Semester I

Modul Digital interaktif Bahasa Indonesia kelas X

Modul Digital interaktif Bahasa Indonesia kelas XI

Modul Digital interaktif Bahasa Indonesia kelas XII


Modul Digital Interaktiv SMA Semester II

Modul Digital interaktif Bahasa Indonesia kelas X

Modul Digital interaktif Bahasa Indonesia kelas XI

Modul Digital interaktif Bahasa Indonesia kelas XII


Silakan untuk klik link tersebut dan modul interaktif akan langsung bisa dibuka,

Semoga bermanfaat












Baca selengkapnya

Saturday, 19 November 2016

problematika keterampilan berbicara siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah


BAB I
PENDAHULUAN

problematika keterampilan berbicara siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah
1.1 Latar Belakang Masalah
Bahasa Indonesia adalah Bahasa resmi Negara Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bila dilihat dari sudut pandang linguistik, bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu. Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Ia berfungsi sebagai bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan, sebagai pengembang kebudayaan, sebagai pengembang ilmu pengetahuan dan teknologi, serta sebagai alat perhubungan dalam kepentingan pemerintahan dan kenegaraan. Bahasa Indonesia hingga saat ini merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.

Pembelajaran bahasa Indonesia masih menghadapi berbagai problematika baik secara internal maupun eksternal dalam pembelajaran. Salah satu yang menjadi permasalah¬an saat sekarang dalam dunia pendidikan yang sering dijumpai dalam tataran praksis pembelajaran terkait dengan keterampilan berbicara.
Realitas yang terjadi dalam pengajaran, tanpa kemampuan dan keterampilan berbicara akan mengakibatkan terjadinya miss komunikasi antara siswa dan guru di sekolah. Begitu pula pelajaran bahasa Indonesia dalam pembelajaran, misalnya, murid tidak akan bisa aktif dalam diskusi, dan daya kritis dan gagasan anak tidak akan mampu ditransformasikan kepada orang lain dalam bentuk ide, mentalitas bahasa anak akan kurang, dan paling tragis dan ironis sekolah hanya akan menghasilkan generasi bisu dan kaku.
Sehubungan dengan hal tersebut maka dalam makalah ini akan membahas mengenai problematika keterampilan bebicara siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah serta solusinya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan masalah dalam makalah ini yaitu, “Bagaimanakah problematika keterampilan berbicara siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah?” Adapun rincian masalah utama tersebut disusun dalam pertanyaan penelitian sebagai berikut.
1. Bagaimanakah hakikat berbicara?
2. Bagaimanakah problematika keterampilan berbicara siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah?
3. Bagaimanakah upaya-upaya yang dilakukan dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah?

1.3 Tujuan Penulisan
Adapun rincian dari tujuan penelitian ini adalah.
1. Menguraikan hakikat berbicara.
2. Memaparkan problematika problematika keterampilan berbicara siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah
3. Memberikan solusi dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah




baca juga : rumah seorang muslim

BAB II
PEMBAHASAN

Bab ini akan membahas mengenai hakikat berbicara, problematika keterampilan berbicara siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah, serta upaya yang dilakukan dalam meningkatkan keterampilan tersebut.

2.1 Hakikat berbicara
Menulis dan membaca merupakan ragam bahasa yang berkaitan erat dengan bahasa tulis, sedangkan berbicara dan mendengarkan (menyimak) merupakan ragam bahasa lisan. Tidaklah sama antara bahasa tulis dan bahasa lisan. Dalam bahasa tulis seorang penulis diikat oleh susunan dan kaidah-kaidah penulisan yang lainnya. Dalam bahasa lisan, seorang pembicara juga diikat oleh kaidah-kaidah seperti pelafalan, jeda, intonasi dan sebagainya.
Kegiatan berbicara diawali dari suatu pesan yang harus dimiliki pembicara yang akan disampaikan kepada penerima pesan agar penerima pesan dapat menerima atau memahami isi pesan itu. Manusia sebagai makhluk sosial memerlukan hubungan dan kerja sama dengan manusia lain. Hubungan dengan manusia lainnya itu antara lain berupa menyampaikan isi pikiran dan persaan, menyampaikan suatu informasi, ide atau gagasan serta pendapat atau pikiran dengan suatu tujuan.
Dalam menyampaikan pesan seseorang menggunakan suatu media atau alat yaitu bahasa, dalam hal ini bahasa lisan. Seorang yang akan menyampaikan pesan tersebut mengharapkan agar penerima pesan dapat memahaminya. Pemberi pesan disebut juga pembicara dan penerima pesan disebut penyimak atau pendengar. Peristiwa proses penyampaian pesan secara lisan seperti itu disebut berbicara. Dengan rumusan lain dapat dikemukakan bahwa berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan.
Tarigan (1983 :15) berpendapat bahwa “berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan”. Sedangkan sebagai bentuk atau wujudnya berbicara disebut sebagai suatu alat untuk mengomunikasikan gagasan yang disusun dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan sang pendengar atau penyimak. Jadi, pada hakikatnya berbicara merupakan ungkapan pikiran dan perasaan seseorang dalam bentuk bunyi-bunyi bahasa. Kemampuan berbicara adalah kemampuan mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Pendengar menerima pesan atau informasi melalui rangkaian nada, tekanan, dan penempatan persendian. Jika komunikasi berlangsung secara tatap muka, berbicara itu dapat dibantu dengan mimik dan pantomimik pembicara.
Kemampuan berbicara merupakan tuntutan utama yang harus dikuasai oleh seorang guru. Jika seorang guru menuntut siswanya dapat berbicara dengan baik, maka guru harus memberi contoh berbicara yang baik hal ini menunjukkan bahwa di samping menguasai teori berbicara juga terampil berbicara dalam kehidupan nyata. Guru yang baik harus dapat mengekspresikan pengetahuan yang dikuasainya secara lisan.

2.1.1 Tujuan Berbicara
Seorang pembicara dalam menyampaikan pesan kepada orang lain pasti mempunyai tujuan, ingin mendapatkan responsi atau reaksi. Responsi atau reaksi itu merupakan suatu hal yang menjadi harapan. Tujuan atau harapan pembicaraan sangat tergantung dari keadaan dan keinginan pembicara. Secara umum tujuan pembicaraan adalah sebagai berikut:
1. mendorong atau menstimulasi,
2. meyakinkan,
3. menggerakkan,
4. menginformasikan, dan
5. menghibur.
Tujuan suatu uraian dikatakan mendorong atau menstimulasi apabila pembicara berusaha memberi semangat dan gairah hidup kepada pendengar. Reaksi yang diharapkan adalah menimbulkan inpirasi atau membangkitkan emosi para pendengar. Tujuan suatu uraian disebut menggerakkan apabila pembicara menghendaki adanya tindakan atau perbuatan dari para pendengar. Misalnya, berupa seruan persetujuan atau ketidaksetujuan, pengumpulan dana, penandatanganan suatu resolusi, mengada-kan aksi sosial. Dasar dari tindakan atau perbuatan itu adalah keyakinan yang men-dalam atau terbakarnya emosi.
Tujuan suatu uraian dikatakan menginformasikan apabila pembicara ingin memberi informasi tentang sesuatu agar para pendengar dapat mengerti dan memahaminya. Misalnya seorang guru menyampaikan pelajaran di kelas, seorang dokter menyampaikan masalah kebersihan lingkungan, seorang polisi menyampaikan masalah tertib berlalu lintas, dan sebagainya. Tujuan suatu uraian dikatakan menghibur, apabila pembicara bermaksud menggembirakan atau menyenangkan para pendengarnya. Pembicaraan seperti ini biasanya dilakukan dalam suatu resepsi, ulang tahun, pesta, atau pertemuan gembira lainnya.
Tujuan pembelajaran berbicara yang diharapkan adalah agar siswa mampu mengungkapkan gagasan, pendapat, dan pengetahuan secara lisan, serta memiliki kegemaran berbicara kritis dan kreatif. Secara umum tujuan pembelajaran keterampil-an berbicara yaitu siswa mampu mengomunikasikan ide atau gagasan, dan pendapat, secara lisan ataupun sebagai kegiatan mengekspresikan ilmu pengetahuan, pengalam¬an hidup, ide, dan lain sebagainya.


2.1.2 Konsep Dasar Berbicara
Pemahaman konsep berbicara sangatlah dibutuhkan oleh seorang guru dalam mengajar keterampilan berbicara. Konsep dasar berbicara sebagai sarana ber¬komunikasi mencakup tujuh hal, yakni: (1) berbicara dan menyimak adalah dua kegiatan resiprokal; (2) berbicara adalah proses individu berkomunikasi; (3) berbicara adalah ekspresi kreatif; (4) berbicara adalah tingkah laku; (5) berbicara dipengaruhi kekayaan pengalaman; (6) berbicara merupakan sarana memperluas cakrawala; dan (7) berbicara adalah pancaran pribadi (Iskandar wassid dan Dadang Sunendar, 2008: 286).
Konsep dasar berbicara tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
1) Berbicara dan menyimak adalah dua kegiatan resiprokal berbicara dan menyimak
dalah dua kegiatan yang berbeda namun berkaitan erat dan tak terpisahkan. Kegiatan menyimak pasti didahului oleh kegiatan berbicara. Kegiatan berbicara dan menyimak saling melengkapi dan terpadu menjadi komunikasi lisan, seperti dalam bercakap-cakap, diskusi, bertelepon, tanya jawab, interview, dan lain-lain. Dalam komunikasi lisan, pembicara dan penyimak berpadu dalam suatu kegiatan yang resiprokal berganti peran secara spontan, mudah, dan lancar dari pembicara menjadi penyimak, dari penyimak menjadi pembicara.
2) Berbicara adalah proses individu berkomunikasi.
Ada kalanya berbicara digunakan sebagai alat komunikasi dengan linkungannya. Bila hal ini dikaitkan dengan fungsi bahasa maka berbicara digunkan sebagai sarana memperoleh pengetahuan mangadaptasi, mempelajari, dan mengontrol lingkungan¬nya. Seseorang menggunakan keterampilan berbicara sebagai alat mempengaruhi dan mengontrol lingkungannya dan pada gilirannya lingkungan itu pun mempengaruhi dirinya. Berbicara adalah salah satu alat komunikasi terpenting bagi manusia untuk dapat menyatakan diri sebagi anggota masyarakat.
3) Berbicara adalah ekspresi kreatif
Melalui berbicara, manusia tidak hanya sekedar menyatakan ide tetapi juga memanifestasikan kepribadiannya. Tingkat intelektual seseorang dapat dilihat dari cara seseorang berbicara. Berbicara tidak sekedar alat mengkomunikasikan ide belaka, tetapi juga alat utama untuk menciptakan dan memformulasikan ide dan kreativitas baru.
4) Berbicara adalah tingkah laku
Melalui berbicara, pada dasarnya pembicara menyatakan gambaran dirinya. Berbicara merupakan simbolisasi kepribadian pembicara. Dalam bahasa Indonesia dikenal peribahasa, “Bahasa menunjukkan bangsa.” Makna peribahasa tersebut ialah cara seseorang berbahasa, berbicara, bertingkah laku menggambarkan kepribadian orang tersebut. Dalam kepribadian seseorang terselip tingkah lakunya, karena itu dapat dikatakan bahwa berbicara adalah tingkah laku.
5) Berbicara dipengaruhi kekayaan pengalaman
Seorang pembicara yang memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman akan berbicara dengan baik dan lancar. Begitu pula sebaliknya, pembicara yang kurang memiliki pengalaman akan mengalami hambatan dalam menyampaikan ide dan gagasanya. Hal yang sama terjadi juga pada anak-anak. Semakin banyak pengalaman anak, semakin lancar pula anak berbicara.
6) Berbicara merupakan sarana memperluas cakrawala
Selain untuk mengeksprsikan ide, perasaan, dan imajinasi, berbicara juga dapat digunakan untuk menambah pengetahuan dan memperluas cakrawala pengalaman. Melalui berbicara wawasan seseorang akan bertambah karena ia akan mendapat umpan balik dari orang lain.


7) Berbicara adalah pancaran pribadi
Gambaran pribadi seseorang dapat diidentifikasikan dengan berbagai cara, salah satunya dari cara seseorang berbicara. Berbicara pada hakikatnya melukiskan apa yang ada di hati, misalnya pikiran, perasaan, keinginan, ide, dan lain-lain. Kualitas suara, tinggi suara, nada, dan kecepatan suara dalam berbicara merupakan indikator keadaan emosi seseorang. Dengan demikian melalui cara bicaranya, kepribadian seseorang dapat diketahui.

2.1.3 Faktor-faktor Penunjang Keefektifan Berbicara
Kita dapat melihat faktor-faktor yang menentukan keefektifan berbicara, yaitu pembicara, pendengar dan pokok pembicaraan yang dipilih. Ketiga faktor ini sangat menentukan berhasil tidaknya kegiatan berbicara. Selain itu faktor bahasa tentu juga sangat menentukan. Maidar G. Arsjad dan Mukti U.S. (1991: 31-32) memberikan rambu-rambu agar seseorang mampu berbicara dengan baik seorang pembicara harus, di antaranya: (1) menguasai masalah yang dibicarakan; (2) mulai berbicara jika situasi sudah mengizinkan; (3) pengarahan yang tepat dan memancing perhatian pendengar; (4) berbicara harus jelas dan tidak terlalu cepat;(5) pandangan mata dan gerak-gerik yang membantu; (6) pembicara sopan, hormat dan melihatkan rasa persaudaraan; (7) dalam komunikasi dua arah, mulai berbicara jika sudah dipersila¬kan; (8) kenyaringan suara; dan (9) pendengar akan lebih terkesan kalau ia menyaksi¬kan pembicara sepenuhnya. Sementara itu Hassan Nur (2008: 2) menjelaskan bahwa setidaknya ada empat faktor yang harus dimiliki oleh seorang pembicara jika ingin berhasil dalam berbicara, yaitu: (1) percaya diri; (2) kejelasan suara; (3) ekspresi/ gerak mimik; dan (4) kelancaran komunikasi.
Lebih lanjut, Maidar G. Arsjad dan Mukti U.S. (1991: 87) menjelaskan bahwa keefektifan berbicara ditunjang oleh dua faktor yaitu faktor kebahasaan dan non kebahasaan. Faktor kebahasaan meliputi: (1) ketepatan ucapan; (2) penempatan tekanan, nada, sendi, dan durasi yang sesuai; (3) pilihan kata (diksi); dan (4) ketepatan sasaran pembicaraan. Adapun faktor nonkebahasaan meliputi: (1) sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku; (2) mimik dan gerak badan atau pandangan; (3) penampilan; (4) menghargai pendapat orang lain; (4) kenyaringan suara; (5) kelancaran; (6) penalaran; dan (7) penguasaan topik.
2.1.4  Merencanakan Pembicaraan
Keterampilan berbicara di depan khayalak ramai, atau yang dikenal dengan istilah public speaking, tidak akan muncul begitu saja pada diri seseorang. Keterampilan itu diperoleh setelah melalui berbagai latihan dan praktik penggunaannya. Bertolak dari masalah itulah para ahli banyak menaruh perhatian terhadap upaya membina dan mengembangkan keterampilan berbicara.
Ehninger (dalam Munawaroh, 2008: 27) mengajukan tujuh langkah yang harus dilalui dalam mempersiapkan suatu pembicaraan. Ketujuh langkah tersebut ialah: (1) menyeleksi dan memusatkan pokok pembicaraan; (2) menentukan tujuan khusus pembicaraan; (3) menganalisis pendengar dan situasi; (4) mengumpulkan materi; (5) menyusun ragangan/kerangka dasar (outline); (6) mengembangkan ragangan/ kerangka dasar; dan (7) menyajikan pembicaraan.Wainringht (dalam Munawaroh, 2008: 28) menyarankan enam langkah yang harus dilalui dan dikuasai oleh seseorang agar tepat menjadi pembicara yang baik.
Langkah-langkah yang disarankan oleh Wainright tersebut adalah: (1) memilih topik; (2) memahami dan menguji topik; (3) memahami latar belakang pendengar dan situasi; (4) menyusun kerangka pembicaraan; (5) mengujicobakan; dan (6) menyaji¬kan.
Gorys Keraf (1980: 316-318) mengusulkan tiga langkah pokok dalam merencanakan suatu pembicaraan. Ketiga langkah pokok itu ialah: (1) meneliti masalah; (2) menyusun uraian; dan (3) mengadakan latihan. Langkah pokok yang masih bersifat umum itu dapat dikembangkan menjadi langkah-langkah yang spesifik. Hasil pengembangan langkah yang bersifat umum menjadi langkah bersifat khusus adalah sebagai berikut: (1) menentukan maksud; (2) menganalisis pendengar dan situasi; (3) memilih dan menyempitkan topik; (4) mengumpulkan bahan; (5) membuat kerangka uraian; (6) menguraikan secara mendetail; dan (7) melatih dengan suara nyaring.

2.1.5  Ciri Pembicara yang Baik
Setiap manusia yang dilahirkan dalam keadaan normal memiliki potensi terampil berbicara. Potensi tersebut akan menjadi kenyataan bila dipupuk, dibina, dan dikembangkan melalui latihan yang sistematis, terarah, dan berkesinambungan. Tanpa latihan potensi tersebut tetap berupa potensi. Kenyataan ini sudah disadari oleh para ahli pengajaran bahasa sehingga ada kecenderungan menggalakkan pengajaran berbicara di sekolah. Berikut ini disajikan sejumlah ciri-ciri pembicara yang baik untuk dikenal, dipahami, dan dihayati, serta dapat diterapkan dalam berbicara.
Menurut Munawaroh (2008: 24) ciri-ciri pembicara yang baik antara lain: (1) memilih topik tepat; (2) menguasai materi; (3) memahami latar belakang pendengar; (4) mengetahui situasi; (5) tujuan jelas; (6) kontak dengan pendengar; (7) kemampuan linguistiknya tinggi; (8) mengusai pendengar; (9) memanfaatkan alat bantu; dan(10) berencana. Apabila cirri-ciri tersebut dimiliki siswa saat praktik berbicara maka dapat dikatakan pembelajaran keterampilan berbicara telah berjalan dan berhasil dengan baik.
Berdasarkan paparan di atas maka berbicara dapat diartikan sebagai suatu aktivitas komunikasi manusia antara sesama untuk menyampaikan pendapat, maksud, pesan, pikiran, gagasan, perasaan dan keinginan. Untuk itu keterampilan berbicara perlu dikuasai, dipahami, dipersiapkan dan direncanakan agar tercipta komunikasi yang baik.

2.1.5  Jenis-Jenis Kegiatan Berbicara
Berbicara terdiri atas berbicara formal dan berbicara informal. Berbicara dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam, bergantung pada landasan dalam peng-klasifikasiannya. Ada diskusi, percakapan, pidato menghibur, ceramah, bertelepon, dan sebagainya. Menurut Parera (1991: 184), untuk jenis berbicara khusus diskusi saja dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu (1) diskusi terbatas: konferensi, komisi, wawancara, brain storming; dan (2) diskusi terbuka/ umum: debat, forum, seminar, panel, simposium, ceramah, kelompok, mimbar (wawancara televisi dan radio).
Aktivitas berbicara selalu terjadi atau berlangsung dalam suasana, situasi, dan lingkungan tertentu. Situasi dan lingkungan itu dapat bersifat formal atau resmi dan informal atau tak resmi. Setiap situasi itu menuntut keterampilan berbicara tertentu. Dalam situasi formal permbicara dituntut berbicara secara formal. Sebaliknya dalam situasi tak formal, pembicara harus berbicara secara tak formal pula.
Logan (dalam Munawaroh, 2008: 13) menyebutkan jenis-jenis (kegiatan) berbicara informal di antaranya adalah tukar pengalaman, percakapan, menyampaikan berita, menyampaikan pengumuman, bertelpon, dan memberi petunjuk. Adapun jenis-jenis (kegiatan) berbicara formal di antaranya adalah ceramah, perencanaan dan penilaian, interview, prosedur parlementer, dan bercerita.

2.1.6  Metode Berbicara
Ada empat unsur yang harus dikuasai oleh seorang  pembicara, yaitu unsur psikologis, linguistik, situasi atau konteks, dan pemahaman ide yang akan diujarkan. Unsur psikologis berkaitan dengan kondisi batin pembicara (keberanian). Unsur linguistik berkaitan dengan penguasaan bahasa yang dikuasi pembicara. Unsur situasi atau konteks berkaitan dengan keadaan yang ada disekitar pembicara. Unsur pemahaman ide berkaitan dengan penguasaan bahan pembicaraan oleh pemateri.
Pada umumnya siswa mengalami hambatan ketika mereka diberikan tugas oleh guru untuk mengemukakan pendapat di depan kelas. Mereka mengalami kesulitan dalam mengungkapkan ide, kurang menguasai materi yang diberikan oleh guru, kurang membiasakan diri untuk berbicara di depan umum, kurangnya rasa percaya diri pada siswa, dan kurang mampu mengembangkan keterampilan bernalar dalam berbicara. Kesulitan-kesulitan tersebut membuat mereka tidak mampu mengungkapkan pikiran dan gagasan dengan baik, sehingga siswa menjadi enggan untuk berbicara menuang-kan ide kreatifnya.
Seperti yang diungkapkan Tarigan, ada empat cara atau teknik yang dapat atau biasa digunakan orang dalam me¬nyampai¬kan pembicaraan yakni:
1. Metode Impromptu ‘Serta Merta’
Dalam hal ini pembicara tidak melakukakan persiapan lebih dulu sebelum berbicara, tetapi secara serta merta atau mendadak berbicara berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya.Pembicara menyampaikan pengetahuannya yang ada, dihubungkan dengan situasi dan kepentingan saat itu.
2.   Metode Menghafal
Pembicara sebelum melakukan kegiatannya melakukan persiapan secara tertulis, kemudian dihafal kata demi kata, kalimat demi kalimat. Dalam penyampaiannya pembicara tidak membaca naskah. Ada kecenderungan pembicara berbicara tanpa menghayati maknanya, berbicara terlalu cepat. Hal itu dapat menjemukan, tidak menarik perhatian pendengar. Mungkin juga ada pembicara yang berhasil dengan metode ini. Metode ini biasanya digunakan oleh pembicara pemula atau yang masih belum biasa berbicara di depan orang banyak.
3. Metode Naskah
Pada metode ini pembicara sebelum berbicara terlebih dulu menyiapkan naskah. Pembicara membacakan naskah itu di depan para pendengarnya. Hal ini dapat kita perhatikan pada pidato resmi Presiden di depan anggota DPR/ MPR, pidato pejabat pada upacara resmi. Pembicara harus memiliki kemampuan menempatkan tekanan, nada, intonasi, dan ritme. Cara ini sering kurang komunikatif dengan pendengarnya karena mata dan perhatian pembicara selalu ditujukan ke naskah. Oleh karena itu, apabila akan menggunakan metode harus melakukan latihan yang intensif.
4. Metode Ekstemporan
Dalam hal ini pembicara sebelum melakukan kegiatan berbicara terlebih dahulu mempersiapkan diri dengan cermat dan membuat catatan penting. Catatan itu digunakan sebagai pedoman pembicara dalam melakukan pembicaraannya. Dengan pedoman itu pembicara dapat mengembangkannya secara bebas.

2.2 Problematika Keterampilan Berbicara Siswa Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah
Dalam setiap pembelajaran bidang studi apapun pasti memiliki masalah, baik masalah yang dihadapi guru maupun masalah yang berasal dari peserta didik. Dalam hal ini, permasalah yang dimaksud terkait dengan keterampilan berbicara siswa, meskipun tetap berpegang kepada hubungan interaktif proses pembelajaran antara guru dan peserta didik.
Pembelajaran bahasa Indonesia berlangsung monoton dan membosankan. Metode pembelajaran terkesan itu-itu saja, metode ceramah, dikte, meringkas, membaca dalam hati, dan latihan/tugas yang evaluasinya sering tidak dapat dipertanggung¬jawab¬¬kan. Belajar bahasa Indonesia tidak diintegrasikan dengan pemanfaatan media seperti: film, video, lagu, gambar, atau alam terbuka.

Pembelajaran berbicara membutuhkan keterampilan dan metode khusus agar keterampilan berbicara tersebut mencapai hasil yang diharapkan. Berdasarkan penelitian Mauli, 2013 dengan judul “keefektifan metode tongkat berestafet dalam menceritakan tokoh idola pada pembelajaran berbicara”, kenyataanya di lapangan menunjukan banyak pendidik kurang memahami metode pembelajaran berbicara yang sangkil-mangkus, sehingga keterampilan berbicara siswa tidak mencapai hasil yang diharapkan. Adapun  masalah-masalah yang berhubungan dengan keterampilan berbicara siswa tersebut adalah siswa kurang percaya diri dalam mengemukakan pendapat, kurang menguaai topik atau informasi yang akan disampaikan, kualitas pembicaraan yang kurang bagus, pembicaraan kurang terkonsep dengan baik.
Banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya mutu kemampuan siswa dalam berbicara. Secara umum faktor-faktor tersebut yaitu guru, peserta didik, kondisi lingkungan, dan metode pembelajaran. Faktor tersebut berkontribusi terhadap pembelajaran bahasa Indonesia dan menempatkan bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran yang tidak disenangi dan membosankan.
Faktor-faktor penyebab problematika siswa dalam pembelajaran berbicara ada dua, yaitu hambatan internal dan hambatan eksternal.
Hambatan internal yang dihadapai siswa, yakni;
1. Siswa tidak bersemangat atau tidak berminat dalam pembelajaran sehingga siswa menjadi pasif, siswa mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia terkesan tidak ada niat, tidak ada gairah dan keseriusan.
2. Penempatan tekanan, nada, jeda, intonasi, dan ritme. Kemampuan siswa berbicara dalam penguasaan tekanan, nada, jeda, intonasi, dan ritme masih rendah. Siswa belum terlalu mengerti dimana menempatkan tekanan, nada, jeda, intonasi, dan ritme dalam berbicara.
3. Pemilihan kata dan ungkapan yang baik, kongkret, dan bervariasi. Siswa dalam berbicara belum terlalu bisa memilih ungkapan yang baik, kongkret dan bervariasi. Hal tersebut terlihat pada siswa yang kurang menggunakan ragam bahasa indonesia dalam berbicara.
4. Merasa malu. Rasa malu pada siswa terlihat pada siswa yang menundukkan kepalanya dan berbicara dengan tersendat-sendat.
5. Rasa takut. Rasa takut ini terlihat pada siswa yang disuruh berbicara di depan kelas oleh guru terlihat takut untuk berbicara. Rasa takut ini bisa berarti takut ditertawakan oleh teman-teman, takut salah, ataupun pun takut bila salah mengucapkan kata.
6. Rasa kurang percaya diri. Rasa kurang percaya diri ini terlihat pada siswa yang disuruh maju ke depan kelas untuk berbicara, tetapi siswa tersebut sepertinya enggan untuk maju ke depan. Ketika siswa tersebut sudah berada di depan pun, siswa tidak juga memulai berbicara tetapi hanya diam.
Hambatan eksternal yang dihadapi siswa biasanya:
1. Suara atau bunyi. Suara atau bunyi bisa mempengaruhi konsentrasi dalam berbicara. Hal ini terlihat pada ada beberapa siswa yang terlihat kehilangan konsentrasi dalam berbicara ketika suasana di luar kelas ribut.
2. Media, tidak dipergunakannya media sebagai alat bantu dalam pembelajaranmenyebabkan siswa belum sepenuhnya termotivasi dalam belajar. Masih ada beberapa siswa yang kurang bersemangat dalam belajar.
Permasalahan yang muncul lainnya, yaitu siswa kurang terampil dalam menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Khususnya saat pembelajaran Bahasa Indonesia, masih banyak siswa yang menggunakan bahasa daerah sehari-hari. Pembelajaran bahasa Indonesia berlangsung monoton dan membosankan. Kebanyak-an guru terutama di sekolah sekolah di kampung menggunakan  metode pembelajaran terkesan itu-itu saja, metode ceramah, dikte, meringkas, membaca dalam hati, dan latihan/ tugas yang evaluasinya sering tidak dapat dipertanggungjawabkan. Belajar bahasa Indonesia tidak diintegrasikan dengan pemanfaatan media seperti: film, video, lagu, gambar, atau alam terbuka.



2.3 Solusi dalam meningkatkan Keterampilan Berbicara Siswa Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah
Berbagai upaya yang menurut kami baik untuk dilakukan berkaitan dengan problematika keterampilan berbicara siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah adalah sebagai berikut.
1. Guru perlu merancang kembali pembelajaran yang lebih menarik, membangkitkan rasa ingin tahu pada diri peserta didik, mendorong anak menjadi lebih aktif, meningkatkan kreativitas anak dan lain-lain. Guru juga dapat menggunakan pendekatan-pendekatan tertentu, menerapkan model-model pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran dan sesuai dengan karakteristik anak. Untuk mendukung hal tersebut guru perlu memperdalam/ menambah pengetahuannya dan memperluas wawasannya baik tentang profesi keguruan maupun tentang pengetahuan lainnya.
2. Meningkatkan minat dan semangat siswa, guru perlu menggunakan media sebagai alat bantu dalam pembelajaran. Media dapat mengkonkritkan sesuatu yang abstrak.
3. Membuat suasana kelas yang dapat mendorong anak aktif dalam pembelajaran adalah suasana kelas yang hangat, dalam arti harmonis dan penuh kekeluargaan, sehingga anak merasa nyaman dalam pembelajaran, tidak ada perasaan takut dan tegang terhadap guru, untuk itu guru perlu bersikap ramah dan bijaksana. Guru harus menciptakan komunikasi tiga arah yaitu guru dengan siswa, siswa dengan guru, dan siswa dengan siswa agar semua siswa turut aktif dalam pembelajaran.
4. Untuk meningkatkan keterampilan berbicara, siswa perlu diberi banyak latihan, misalnya diberi kesempatan bertanya, lebih sering disuruh maju ke depan kelas untuk membaca puisi, bermain drama dan lain-lain. Hal tersebut dimaksudkan melatih mental para siswa agar berani tampil di depan kelas. Kalau mental siswa sudah bagus tinggal membimbing dan membina kemampuan dan keterampilan siswa dalam berbicara. Oleh karena itu, untuk meningkatkan keterampilan berbicara, siswa perlu menambah pengetahuan dan memperluas wawasan sehingga siswa dapat berbicara dengan baik. Kegiatan pembelajaran dalam bentuk diskusi juga turut membantu melatih latihan siswa untuk mengemukakan pendapatnya, sanggahan, alasan dan argumentasi secara lisan.
5. Kebiasaan siswa menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari masih terbawa kedalam proses pembelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut, siswa perlu dibiasakan untuk menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar saat pembelajaran. Selain itu untuk melatih kemampuan siswa dalam berbahasa Indonesia, guru sebaiknya mengingatkan siswa banyak mendengarkan berita-berita dan pidato-pidato berbahasa Indonesia sehingga telinga anak terbiasa mendengar lafal-lafal yang tepat dalam Bahasa Indonesia.
6. Guru menyiasati agar di setiap proses pembelajaran terjadi diskusi, hal ini baik dalam menstimulus keterampilan siswa dalam meningkatkan keterampilan berbicara.














BAB III
SIMPULAN

Berdasarkan pembahasan pada bab dua, maka dapat penulis simpulkan bahwa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia keterampilan berbicara siswa diharapkan agar siswa mampu mengungkapkan gagasan, pendapat, dan pengetahuan secara lisan, serta memiliki kegemaran berbicara kritis dan kreatif. Secara umum tujuan pembelajaran keterampilan berbicara yaitu siswa mampu mengomunikasikan ide atau gagasan, dan pendapat, secara lisan ataupun sebagai kegiatan mengekspresikan ilmu pengetahuan, pengalaman hidup, ide, dan lain sebagainya.
Peran guru sangat penting dalam menunjang minat siswa dalam proses pembelajaran disekolah. Guru adalah faktor utama dalam menciptakan suasana yang menyenang¬kan dengan menjadikan pembelajaran bahasa Indonesia disukai oleh siswa serta mem¬-bantu dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Guru dimaknai sebagai fasilitator dalam proses belajar mengajar yang bertugas menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar yang lebih sangkil dan mangkus. Sebelum mengajar, guru harus merencanakan kegiatan pengajaran secara sistematis, sehingga dapat terampil dalam proses belajar mengajar.
Guru terampil sebaiknya melakukan berbagai upaya untuk peningkatan prestasi belajar siswa, hal tersebut merupakan tanggung jawab semua guru dalam memperoleh kualitas sumber daya manusia untuk mewujudkan hal di atas seorang guru dituntut untuk memiliki keterampilan mengajar seperti: keterampilan bertanya, keterampilan memberi penguatan, keterampilan memberi variasi, keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan mengelola kelas, keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil dan keterampilan menjelaskan. Dengan demikian keterampilan mengajar tersebut harus senantiasa dikembangkan oleh guru untuk mencapai tujuan pengajaran.

Baca selengkapnya

Saturday, 15 October 2016

Jangan biarkan rumah seorang muslim sepi seperti kuburan, sibuk dan ramai seperti pasar, bahkan mengerikan seperti perang.

Mengenalkan Anak pada Taman-Taman Surga

Generasi teknologi dengan beragamam kepemilikan alat informasi yang pada era digital membuat sebagain orang tua khawatir dan sebagain lagi menjadi ajang promosi pada istilah biar tidak gaptek. Sudut pandang yang berbeda memberikan keteladan yang baik untuk setiap orang tua yang memperhatikan perkembangan anaknya. Perbedaaan pandangan bagi sebagian orang menjadi keuntungan tersendiri dan menjadi kerugian tersendiri, maka menjadikan sesutau yang baru berkaitan dengan teknologi selayaknya disikapi dengan pendampingan pada perkembangan ilmu dan amal kebaikan yang dimilki oleh anak.

Kekhwatiran orang tua pada pesatnya kemajuan teknologi  meliputi tiga hal yang pasti akan ditemui:
1.       Pengeluaran
2.       Pergaulan
3.       Peradaban

Pertama, pengeluaran
Seseorang atau setiap orang yang sudah telibat dalam teknologi tentu akan membutuhkan sesutau yang dapat menjalankan teknologi tersebut sebagai sumber keberlangsungan dan kebergunaan dari teknologi . ukuran pengeluaran dalam setiap individu berbeda-beda sesuai dengan kapasitas kepemilikan dana atau aset keuangan. Ada sebuah kenyataan yang tentunya sudah bisa di temukan “semakin banyak aset dan uang yang dimilki maka semakin banyak penegluaran yang dibutuhkan’ dan sebaliknya “ semakin sedikit kepemilkan aset dan uang yang dimilki akan semakin seedikit pengeluaran yang dibutuhkan”.

Kedua, pergaulan
Pergaulan di era teknologi tidak terbatas uasia dan lintas negara. Akses informasi yang diterima bergam dan semuanya bisa ditemui dengan teknologi informasi. Kehati-hatian dan kecapkan seseorang dalam memanfaatkan teknologi akan berdampak pada pemabtasn pergaulan yang dimilki dan berbeda dengan yang bebas akan memahami sebuah kehidupan maka pergaulan yang bebas akan mudah ditemui. Pergaulan di era teknologgi tidak terbatas maka sudah menjadi kewajran bagi setiap indivu untuk mengkoreksi diri.

Ketiga, peradaban
Perdaban manusia yang semakin banyak namun semakin sepi, seorang akan senang dan asik berada di dalam rumah dengan teknologi informasi yang dimilki ketimbang keluar dan bergaul dengan masyarakat atupun tetanggga. Peradaban tidak saling kenal dan tidak saling sapa semakin gencar dan bermunculan dengan tumbuh dan berkmbangya kemajuan bangsa dibidang teknologi dan informasi.

Ketiga hal tersebut, baik secara pengeluaran, pergaulan dan peradaban menjadi sesutau yang cenderung negatif namun penyikapan dengan proses penyeimbangan akan memberikan warna yang lebih. Maka sudah sewajaranya setiap orang untuk berbagi dan berkumpul di taman-taman surga. Kenalkan generasi pada taman-taman surga yang sudah menjadi kehidupan dan peradaban generasi awwalin atau generasi sahabat.

Dimana keberadaaan taman-taman surga :
1.       Berkumpulnya dalam sebuah majleis ilmu
2.       Saling belajar dan mempelajarkan al-quran

Kebutuhan seseorang dan keinginan seseorang akan terus berdampingan memenuhi segala fenomena kehidupan yang pada akhirnya menjadi pertanggung jawaban kelak di akhirat. Memberikan pengenalan akan indahnya tempat yaitu taman surga pada generasi muda dan anak-anak akan menajdikan warna tersendiri tehadap ketiga ketegori tersebut.

Semoga menempatkan anak dan generasi muda pada tempat yangbenar, karena beda cara pandang akan beda dalam bertindak. Seorang nak menyukai mmusik karena pergaulan seorang anak banyak beredar musik, walaupun orang tua melarang si anak akan berusaha melawan dan menolak setiap usulan, argumentasi bahkan larangan orang tua.

Hal terkecil yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah membuat sebauh lingkungan keluarga yang menajamin hadirnya taman surga di rumah tersebut. Jangan biarkan rumah seorang muslim sepi seperti kuburan, sibuk dan ramai seperti pasar, bahkan mengerikan seperti perang.


Baca selengkapnya

Saturday, 1 October 2016

FKIP UNIVERSITAS LAMPUNG BERBENAH

Unila atau yang memiliki kepanjangan dari Universitas Lampung,  merupakan Universitas terbaik di provinsi Lampung dan tingkat Sumatera. Untuk tingkat nasional kabarnya masuk 20 besar terbaik.  Keren ya...

FKIP Universitas Lampung,  salah satu fakultas yang ada dari tujuh fakultas lainnya dan merupakan Fakultas terbaik tingkat universitas.  Keren..

Pada tahun 2016 ini,  FKIP Unila dipimpin oleh seorang Doktor yang bergelut di bidang sastra dan bahasa. Sosoknya yang mudah tersenyum dan sering menjadi imam di Mushola ulul albab FKIP Unila mulai merapihkan dan menyusun hijaunya FKip dengan tamantaman.

Perubahan yang tampak di FKIP
1. Mark parkir
2. Perapihan taman
3. Parkir elektronik sebentar lagi
4. Pembangunan gedung /renovasi
5. Areal parkir yang semakin luas..








Baca selengkapnya

Monday, 19 September 2016

Tempat persinggahan FIrasat, macam-macam Firasat

Tempat persinggahan FIrasat, macam-macam Firasat

Firasat
oleh: Yanto


Allah telah befirman kaitannya dengan tempat persinggahan firasat
ini,
"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tandatanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tandatanda."
(Al-Hijr: 75).
Menurut Mujahid, mutawassimin (orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda) di dalam ayat ini artinya orang-orang yang memiliki firasat.
Menurut Ibnu Abbas, artinya orang-orang yang memandang. Menurut Qatadah, artinya orang-orang yangmengambil pelajaran. Menurut Muqatil,
artinya orang-orang yang berpikir.
Tidak ada yang menyimpang dalam pendapat-pendapat ini. Sebab
orang yang memandang dan memperhatikan akibat dan kesudahan yang dialami orang-orang yang mendustakan, tentu akan mendapatkan fira-sat
dan pelajaran serta pemikiran. Allah befirman tentang orang-orang
munafik,
"Dan, kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka
kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya, dan kamu benar-benar mengenal mereka dengan kiasankiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kalian." (Muhammad: 30).
Mengenal yang pertama merupakan firasat pandangan dan mata,
sedangkan mengenal yang kedua merupakan firasat telinga dan
pendengaran.

Firasat ada tiga macam:
Firasat Pertama: Berkaitan dengan iman. Sebabnya adalah cahaya yang dimasukkan Allah ke dalam hati hamba, sehingga dia bisa membedakan antara yang haq dan batil, yang jujur dan yang dusta. Hakikatnya firasat ini menyusup ke dalam hati dan menajikan kebalikannya, melom-pat
ke dalam hati seperti melompatnya singa ketika menerkam mang-sanya.
Firasat ini tergantung pada kekuatan iman. Siapa yang imannya lebih kuat, maka firasatnya lebih tajam.
Abu Sa'id Al-Kharaz berkata, "Siapa yang memandang dengan cahaya firasat, maka dia memandang dengan cahaya kebenaran."
Al-Wasithy berkata, "Firasat merupakan pancaran cahaya yang
menyusup ke dalam hati, yang memungkinkan dapat mengetahui raha-siarahasi dalam hal-hal yang gaib, dari yang gaib kepada yang gaib, hingga dia dapat mengetahui sesuai seperti yang diperlihatkan Allah kepadanya."
Amr bin Najid menuturkan bahwa Syah Al-Karmany termasuk orang
yang tajam firasatnya dan tidak pernah meleset. Dia pernah berkata, "Siap yang menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan, menahan diri dari nafsu, mengisi batinnya dengan pengawasan Allah dan zhahir-nya
dengan mengikuti As-Sunnah serta biasa memakan yang halal, makafirasatnya tidak akan meleset."
Abu Hafsh An-Nisabury berkata, "Seseorang tidak boleh membual
tentang firasat, tetapi dia harus takut firasat dari orang lain. Sebab Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda, "Takutlah kalian terhadap firasat orang Mukmin, karena dia memandang dengan cahaya Allah."
Beliau tidak mengatakan, "Berfirasatlah kalian. Maka bagaimana mungkin seseorang membual mendapatkan firasat, padahal dia dalam posisi yang harus mewaspadai firasat?"
Suatu hari Al-Junaid berbicara dengan beberapa orang. Lalu ada
seorang Nasrani yang berdiri di hadapannya dengan sikap yang tidak kompromis, seraya bertanya, "Wahai Syaikh, apa makna sabda Muhammad,'Takutlah kalian terhadap firasat orang Mukmin, karena dia memandang dengan cahaya Allah?'"
Al-Junaid menundukkan kepala beberapa saat, lalu dia mengangkatnya lagi seraya berkata, "Masuklah Islam, karena kini sudah tiba saatnya bagimu untuk masuk Islam." Maka orang Nasrani itu pun masuk Islam.
Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang yang paling besar firasatnya dari umat ini. Sesudahnya adalah Umar bin Al-Khaththab. Tentang kete-patan firasat Umar ini sudah sangat terkenal. Jika dia berkata, "Kukira begini",
maka yang terjadi pun seperti yang dikatakannya itu. Bahkan firasat Umar ini juga sesuai dengan apa yang ditetapkan Allah. Firasat para shahabat adalah yang paling benar. Dasar jenis firasat ini berasal dari kehidupan dan cahaya yang dianugerahkan
Allah kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya, sehing-ga
hati mereka menjadi hidup, bersinar dan bercahaya, sehingga hampir hampir firasatnya tidak meleset.

Firasat Kedua: Firasat dengan cara latihan, membuat perut lapar,
tidak tidur malam dan menyendiri. Jika jiwa dibebaskan dari segala macam kaitan, maka ia akan memiliki firasat dan pengungkapan hakikat, tergantung dari porsinya. Firasat ini bisa didapatkan orang Mukmin dan kafir,
tidak menunjukkan kepada iman. Banyak orang bodoh yang terkecoh dengan firasat ini, karena banyak pendeta yang juga memiliki kejadiankejadian yang menakjubkan. Ini merupakan firasat yang tidak mengungkap kebenaran yang bermanfaat dan tidak dengan cara yang lurus.

Firasat Ketiga: Yang berkaitan dengan bentuk penciptaan, yaitu seperti yang diisyaratkan para dokter dan lain-lainnya. Mereka mengacu kepada bentuk penciptaan untuk mengetahui akhlak, karena memang ada kaitan yang erat antara keduanya, sesuai dengan hikmah yang ditetapka Allah, seperti pembuktian dengan kecilnya ukuran kepala yang lebih kecil dari ukuran secara normal, yang membuktikan kecilnya ukuran otak, yang
berarti menunjukkan sempitnya pikiran. Begitu pula sebaliknya.
Kebanyakan firasat dikaitkan dengan mata, karena mata merupakan cermin hati dan tanda yang tersimpan di dalamnya. Berikutnya dengan lisan, karena lisan merupakan utusan dan penerjemahnya. Dasar firasat juga bisa dikaitkan dengan penampilan, keliaran, keadaan rambut dan lain
sebagainya. Tapi masalah ini harus diperhatikan dan seseorang tidak boleh langsung membuat keputusan berdasarkan firasat semata. Sebabdalam keadaan seperti kesalahannya lebih banyak. Tanda-tanda ini hanya sekedar sebagai sebab dan bukan sesuatu yang pasti, yang hukumnya berbeda tergantung dari perbedaan syarat-syaratnya atau karena adanya perintang.
Pengarang Manazilus-Sa'irin berkata, "Firasat ialah menyimak hu-kum sesuatu yang tidak ada di tempat, tanpa meminta bukti kehadiran-nya."Maksudnya, jika engkau bisa melihat hukum sesuatu yang tidak ada di tempat. Jika dengan cara menyimak itu engkau bisa mengetahui hukumnya, maka itulah yang disebut firasat
Baca selengkapnya

Thursday, 8 September 2016

Siapakah Pitung  yg sebenarnya!!!  Baca...

Siapakah Pitung yg sebenarnya!!! Baca...

Oleh: Amien Kamil

Pitung itu bukan nama orang seperti halnya si Jampang atau Sabeni, tapi "Pitung" merupakan singkatan dari Pituan Pitulung yang merupakan salah satu organisasi perlawanan rakyat Jakarta yang dibentuk pada tahun 1880 Masehi oleh Kyai Haji Naipin atas saran dari Pejuang Jayakarta dan Sesepuh adat Tempo Dulu. Kyai Haji Naipin adalah seorang yang alim dan juga dikenal sebagai salah satu ahli silat yang handal di kawasan Tenabang.

PITUNG didirikan setelah seluruh anggotanya melewati beberapa tes seperti ujian jurus terakhir illmu silat, ujian ilmu agama yang sudah mereka pelajari, ujian ilmu tarekat serta diakhiri dengan khataman Al-Qur'an yang diikuti oleh 7 santri terbaik Kyai Haji Naipin. Setelah dinyatakan lulus maka ketujuhnya dibaiat untuk selalu setia dalam jihad fisabillah, setia terhadap persahabatan, selalu menolong rakyat dan hormat dan patuh terhadap orangtua, ulama dan sesepuh adat.

Nama Pitung yang berarti 7 Pendekar Penolong, mengambil dari inspirasi Surat Al Fatehah yang terdiri dari 7 ayat. Oleh karena itu ke 7 Pendekar ini selalu ditekankan untuk terus menghayati dan mengamalkan kandungan Surat Al Fatehah dalam setiap perjuangan mereka.

Diantara ke 7 Pendekar itu maka kemudian dipilihlah yang paling terbaik untuk menjadi pemimpin, jatuhlah pilihan itu kepada salah satu murid yang paling dicintai KH Naipin yaitu Radin Muhammad Ali Nitikusuma. KH Naipin memang sangat sayang pada sosok ini, karena sejak kecil Radin Muhammad Ali adalah seorang Yatim dan beliau juga tahu bagaimana kisah terbunuhnya ayah Muhammad Ali. Sedangkan ibunya telah menikah lagi dengan salah seorang duda yang mempunyai anak yang berada di daerah Kemanggisan. Kasih sayang ulama sufi ini juga sangat wajar karena dia adalah paman Radin Muhammad Ali.

Beliau Radin Muhammad Ali Nitikusuma adalah sosok yang alim dan soleh, pewaris silat Kyai Haji Naipin dan silat-silat warisan pejuang Jayakarta. Beliau dikenal sebagai sosok yang tegas dan pantang kompromi dengan penjajah kafir. Ayahnya syahid dibunuh penghianat bangsa yang diantaranya para Tuan Tanah China dan centeng-centeng bayarannya, harta bendanya dirampas dan keluarga besarnya banyak yang diburu dan difitnah. Beliau yatim sejak umur dua tahun. Di mata penjajah sosok ini lebih dikenal sebagai perampok daripada pejuang.

Orang kedua yang juga tidak kalah hebatnya adalah Ratu Bagus Muhammad Roji'ih Nitikusuma. Dialah otak dibalik semua strategi perlawanan gerakan Pitung. Dikenal licin dan sulit untuk ditangkap. Namanya sering disebut sebagai Ji'ih. Sosoknya alim dan Soleh dan dikenal sangat keras perlawanannya terhadap penjajah kafir. Dia tidak seperti yang digambarkan dalam beberapa film. Dia justru sangat cerdas dan penuh perhitungan.

5 orang lagi juga tidak kalah hebatnya, mereka adalah Abdul Qodir, Abdus Shomad, Saman, Rais, Jebul ( Ki Dulo/Abdulloh). Salah satu dari mereka yaitu Bang Jebul dengan hanya berapa gebrakan jurus "Sira Macan" bahkan pernah membuat babak belur Schout Van Hinne dalam sebuah adu tanding silat di Tangerang sehingga dari kejadian inilah Hinne menjadi sangat dendam terhadap semua anggota Pitung karena merasa telah dipermalukan di depan khalayak ramai. Hinne juga pernah kena batunya saat semua Anggota Pitung menangkapnya di daerah Jelambar. Disini dia dan pasukan marsosenya dihajar habis-habisan. Pasukan Marsosenya yang terkenal sadis lari terbirit birit ketika berhadapan dengan Pitung. Anggota Pitung kesal karena Hinne ini memfitnah Pitung dan mengancam beberapa orang yang pro terhadap perjuangan Pitung. Tapi semua anggota Pitung masih memberikan kesempatan dia hidup dengan catatan dia tidak menindas rakyat dan tidak memfitnah Pitung sebagai gerombolan perampok.

Seperti pada sebuah perjuangan pasti ada resiko..dua orang anggota Pitung yaitu Jebul dan Saman pada tahun 1896 pernah tertangkap dan dipenjarakan di Glodok. Namun mereka berhasil meloloskan diri bahkan berhasil membunuh beberapa marsose. Beberapa anggota Pitung juga harus mengalami mati syahid. Dji'ih tertembak tahun 1899 Masehi, jenazahnya masih bisa diselamatkan. Radin Muhammad Ali syahid ditembak tahun 1905 Masehi. Beliau ditembak bertubi tubi oleh para Marsose sampai akhirnya rubuh, namun sampai detik detik kematiannya dia tidak menyerah dan terus bertakbir.

Setelah Syahid jasad Muhammad Ali dimutilasi penjajah kafir melalui para inlander yg menjadi "anjing anjing penjajah" yang rela menindas saudaranya sendiri. Jasad Muhammad Ali yang tidak sempurna kemudian disholatkan oleh para alim ulama di kawasan Slipi dan sekitarnya untuk kemudian dimakamkan di daerah Bandengan. Para ulama dan sesepuh yang berada di daerah Jipang Pulorogo (Slipi, Palmerah, Rawa Belong, Kemandoran dan sekitarnya) sangat berduka dengan kematian salah satu pejuang terbaik mereka.

Pitung adalah fakta sejarah, kisah mereka tercatat dalam kitab Al Fatawi, kisah mereka adalah kisah perlawanan kaum muslimin yang tertindas oleh penjajah kafir dan antek anteknya Mereka adalah Mujahid Sejati yang membela agama Islam dan rakyat Jakarta, mereka bukan Perampok, mereka orang orang terpelajar dan juga mengerti tentang dunia politik yang diterapkan penjajah.

Kisah mereka tentu tidak akan pernah sesuai dengan kisah yang berasal dari penjajah kafir baik itu melalui koran mereka ataupun para sejarawan kolonialis yang memang bekerja untuk kepentingan penjajah. Penjajah pada masa itu dengan politik devide et imperanya bahkan berusaha untuk menciptakan Pitung-Pitung palsu untuk memancing Pitung Pitung asli keluar dari persembunyian. Bahkan saat syahidnya Radin Muhammad Ali , salah satu fihak yang menjebaknya mengaku sebagai Pitung asli.

Para anggota Pitung adalah manusia biasa, mereka tidak mempunyai ilmu macam-macam apalagi sampai memakai zimat seperti yang disebarkan beritanya oleh Belanda kalau Pitung Sakti mandraguna. Isu peluru emaspun dibuat-buat dan disebarkan kepada masyarakat agar Radin Muhammad Ali dianggap sosok sakti namun ternyata Belanda lebih hebat. Jasadnya sengaja dimutilasi agar masyarakat kehilangan jejak sejarahnya dan juga tidak bisa lagi menziarahi makamnya. Namun sekalipun jasadnya terpencar kisah kepahlawanan pejuang tangguh ini tidak akan pernah hilang dari tanah Jakarta ini...

Semua anggota Pitung hanya diajarkan ilmu beladiri dan juga ilmu ilmu agama seperti Tafsir, Fiqih, Hadist, Tassawuf, Ilmu Alat dan juga pengetahuan tentang strategi-strategi perlawanan. Mereka juga melek terhadap dunia politik yang berkembang pada masa itu, sehingga karena lengkapnya pengetahuan mereka, penjajah menghabisi gerakan ini sampai ke akar akarnya...

PITUAN PITULUNG....1 untuk 7....7 untuk 1

7 Golok adalah mereka
Allah Dasar hidup mereka
Rasulullah SAW panutan mereka

Photo diatas adalah lambang gerakan dari Pituan Pitulung (Pitung)

Disarikan dari KITAB AL FATAWI yang dtulis ulang dari tulisan lama ke dalam bahasa arab melayu oleh Al Allamah Asy-Syekh KH Ratu Bagus Ahmad Syar'i/Kumpi Syari/Babe Betawi) atas perintah Guru Mansur Sawah Lio tahun 1910 Masehi di Jakarta.
Baca selengkapnya
Fungsi dan Peran Perpustakaan

Fungsi dan Peran Perpustakaan

Fungsi dan Peranan Perpustakaan Sekolah


Fungsi perpustakaan adalah suatu tugas atau jabatan yang harus dilakukan di dalam perpustakaan tersebut. Sesuai dengan unsur pengertian bahwa di dalam perpustakaan terdapat koleksi yang digunakan untuk keperluan studi, penelitian, bacaan umum dan lainlainnya, maka perpustakaan mempunyai pelbagai macam fungsi.
C. Larasati Milburga, dkk membagi fungsi perpustakaan sekolah menjadi 7, yaitu:
a.       Membantu para siswa melaksanakan penelitian dan membantu menemukan keterangan-keterangan yang lebih luas dari pelajaran yang didapatnya di dalam kelas
b.      Memupuk daya kritis pada siswa
c.       Membantu memperkembangkan kegemaran dan hobi siswa
d.      Tempat untuk melestarikan kebudayaan
e.       Sebagai pusat penerangan
f.        Menjadi pusat dokumentasi
g.       Sebagai tempat rekreasi.[17]
Sementara dalam “Perpustakaan Nasional” disebutkan bahwa secara garis besar perpustakaan sekolah mempunyai fungsi sebagai berikut:
a.       Sebagai pusat belajar mengajar
b.      Membantu anak didik memperjelas dan memperluas pengetahuannya tentang suatu pelajaran di kelas dan mengadakan penelitian di perpustakaan
c.       Mengembangkan minat, kemampuan dan kebiasaan membaca yang menuju kebiasaan mandiri
d.      Membantu anak untuk mengembangkan bakat, minat dan kegemarannya
e.       Membiasakan anak mencari informasi di perpustakaan
f.        Sebagai tempat rekreasi
g.       Memperluas kesempatan belajar bagi murid-murid.[18]
Dari kedua pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa perpustakaan sekolah mempunyai fungsi sebagai berikut:
a.       Fungsi edukatif
Di perpustakaan sekolah disediakan buku-buku baik fiksi maupun non fiksi. Adanya buku-buku ini dapat membiasakan murid-murid belajar mandiri dan dapat meningkatkan interest membaca murid-murid. Biasanya di dalam perpustakaan sekolah tersedia buku-buku yang disesuaikan dengan kurikulum sekolah. Hal ini dapat menunjang penyelenggaraan pendidikan di sekolah.[19]
b.      Fungsi informatif
Perpustakaan yang sudah maju tidak hanya menyediakan bahan-bahan pustaka yang berupa buku-buku, akan tetapi juga bahan-bahan yang bukan berupa buku.28 Semuanya itu akan memberikan informasi atau keterangan yang diperlukan oleh murid-murid. Perpustakaan sebagai informasi ini menambah wawasan tentang segala yang bermanfaat.[20]
c.       Fungsi tanggung jawab administratif
Hal ini dapat dilihat dalam kegiatan sehari-hari di perpustakaan, yaitu melalui pencatatan adanya peminjaman dan pengembalian. Adanya sanksi jika ada keterlambatan ataupun menghilangkan buku juga membantu mendidik murid-murid untuk bertanggung jawab dan tertib administrasi.[21]
d.      Fungsi riset
Sebagaimana penjelasan di muka bahwa perpustakaan menyediakan banyak bahan pustaka. Dengan adanya bahan pustaka yang lengkap murid-murid dan guru-guru dapat melakukan riset, yaitu mengumpulkan data atau keterangan-keterangan yang diperlukan.[22] Sebagai fungsi penelitian, perpustakaan menyediakan berbagai informasi untuk menunjang kegiatan penelitian, informasi yang disajikan meliputi berbagai jenis dan bentuk informasi.
e.       Fungsi kultural
Perpustakaan bertugas menyimpan khasanah budaya bangsa atau masyarakat tempat perpustakaan berada serta meningkatkan nilai dan apresiasi budaya dari masyarakat sekitar perpustakaan melalui penyediaan bahan pustaka.[23]
f.        Fungsi rekreatif
Perpustakaan diharapkan dapat mengembangkan minat rekreasi melalui berbagai bacaan dan pemanfaatan waktu senggang.[24] Perpustakaan sekolah dapat digunakan sebagai tempat mengisi waktu luang pada waktu istirahat dengan membaca buku-buku cerita, novel, roman, majalah, surat kabar, dan sebagainya.
Perpustakaan sebagai Pusat Sumber Belajar
Dalam arti luas, sumber belajar (learning resources) adalah segala macam sumber yang ada di luar diri seseorang (peserta didik) dan yang memungkinkan (memudahkan) terjadinya proses belajar.[25]

Menurut Oemar Hamalik, sumber belajar adalah semua yang dipakai oleh siswa (sendiri-sendiri atau bersama-sama dengan para siswa lainnya) untuk memudahkan belajar.[26]
Edgar Dale sebagaimana yang dikutip oleh Ahmad Rohani menyatakan bahwa:
”Sumber belajar adalah pengalaman-pengalaman yang pada dasarnya sangat luas, yakni seluas kehidupan yang mencakup segala sesuatu yang dapat dialami, yang dapat menimbulkan peristiwa belajar. Maksudnya adalah perubahan tingkah laku ke arah yang lebih sempurna sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan.”[27]

Berangkat dari pengertian di atas, selanjutnya AECT (Assosiation for Education Communication and Technology) sebagaimana yang dikutip oleh Ahmad Rohani mengklasifikasikan sumber belajar menjadi 6, yaitu:
a.    Pesan (messages), yaitu informasi yang ditransmisikan (diteruskan) oleh komponen lain dalam bentuk ide, fakta, arti dan data. Termasuk ke dalam kelompok pesan adalah semua bidang atau mata kuliah yang harus diajarkan kepada peserta didik
b.   Orang (peoples), yaitu manusia yang bertindak sebagai penyimpan, pengolah, penyaji pesan. Dalam kelompok ini misalnya seorang Guru, Dosen, Tutor, peserta didik, tokoh masyarakat atau orang-orang lain yang mungkin berinteraksi dengan peserta didik
c.    Bahan (materials), yaitu perangkat lunak yang mengandung pesan untuk disajikan melalui penggunaan alat ataupun oleh dirinya sendiri. Berbagai program media termasuk kategori bahan, misalnya transparansi, slide, film, film-strip, audio, video, buku, modul, majalah, bahan instruksioal terprogram dan lain-lain
d.   Alat (devices), yaitu perangkat keras yang digunakan untuk penyampaian pesan yang tersimpan dalam bahan. Misalnya, proyektor slide, overhead, video tape, pesawat radio, pesawat televisi dan lain-lain
e.    Teknik (techniques), yaitu prosedur atau acuan yang disiapkan untuk menggunakan bahan, peralatan, orang dan lingkungan untuk menyampaikan pesan. Contohnya instruksional terprogram, belajar sendiri, belajar tentang permainan simulasi, demonstrasi, ceramah, tanya jawab, dan lain-lain
f.     Lingkungan (setting), yaitu situasi sekitar di mana pesan disampaikan. Lingkungan bisa bersifat fisik (gedung sekolah, kampus, perpustakaan, laboratorium, studio, auditorium, museum, taman) maupun lingkungan non fisik (suasana belajar dan lain-lain).[28]

Dari beberapa penjelasan di atas, jelas kiranya bahwa perpustakaan termasuk di dalamnya koleksi, pengunjung dan pustakawan termasuk dalam sumber belajar. Sumber-sumber belajar tersebut saling melengkapi satu sama lain, meskipun bisa juga secara sendiri-sendiri berperan menimbulkan proses belajar. Misalnya para pengunjung banyak mendapat informasi penting dari para pustakawan, sehingga untuk saat itu mereka tidak memerlukan informasi jenis lainnya yang tersimpan dalam jenis sumber lain.
Perpustakaan mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai pusat sumber belajar yang tersedia untuk penyimpanan dan untuk pemanfaatan sumber belajar yang berupa cetak maupun non cetak.[29]
Perpustakaan yang lengkap dan dikelola dengan baik memungkinkan peserta didik untuk lebih mengembangkan dan mendalami pengetahuan yang diperolehnya di kelas melalui belajar mandiri, baik pada waktu-waktu kosong di sekolah maupun di rumah. Disamping itu, juga memungkinkan guru untuk mengembangkan pengetahuan secara mandiri, dan juga dapat mengajar dengan metode bervariasi. Misalnya belajar individual.[30]

[1]Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Ed; 3. Cet.2, Jakarta: Balai Pustaka, 2002), h. 802.
[2]Ibid, h. 912
[3]Fatah Syukur NC, Teknologi Pendidikan, (Semarang: RaSAIL, 2004), h. 102.
[4]Ibrahim Bafadal, Pengelolaan Perpustakaan Sekolah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), h. 3.
[5]Darmono, Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah, (Jakarta: Gramedia Widia Sarana Indonesia, 2001), h. 2
[6]P. Sumardji, Perpustakaan Organisasi dan Tatakerjanya, (Yogyakarta: Kanisius, 1991), h. 13.
[7]C. Larasati Milburga, et.all., Membina Perpustakaan Sekolah, (Yogyakarta: Kanisius,  1986), h.17.
[8]Ibrahim Bafadal, op.cit., h. 4.
[9]Ibid., h. 5.
[10]C. Larasati Milburga, et.al., op.cit., h. 54.
[11]Sulistiyo Basuki, Pengantar Ilmu Perpustakaan, (Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud, 1993), h. 91.
[12]P. Sumardji, op. cit., h. 14-15.
[13]Sutarno NS, Perpustakaan dan Masyarakat, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003), h. 49-50.
[14]Ibid., h. 37.
[15]Ibid., h. 35.
[16]Sutarno NS, op.cit., h. 33.
[17]C. Larasati Milburga, et,al., op.cit., h. 61-62.
[18]Perpustakaan Nasional RI., Perpustakaan Sekolah, Petunjuk Untuk Membina, Memakai dan Memelihara Perpustakaan di Sekolah, (Jakarta : Perpustakaan Nasional RI, 1996), h. 7.
[19]Ibrahim Bafadal, op.cit., h. 6-7.
[20]Ibid
[21]Ibid
[22]Ibid, h. 7-8
[23]Fatah Syukur NC, op.cit., h. 104
[24]Darmono, op.cit., h. 4.
[25]Ahmad Rohani, Media Instruksional Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), h. 102.
[26]Oemar Hamalik, Media Pendidikan, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 1994), h. 195.
[27]Ahmad Rohani, op.cit, h. 102
[28]Ibid., hlm. 108-109.
[29]Ibid, h. 109
[30]Pawit M. Yusup, Komunikasi Pendidikan dan Komunikasi Instruksional, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1990), h. 88.

Baca selengkapnya
Jenis-jenis Perpustakaan

Jenis-jenis Perpustakaan

Jenis-jenis Perpustakaan

Pada umumnya jenis perpustakaan yang berkembang di Indonesia kurang lebih sama dengan yang berkembang di negara lain, yang berbeda mungkin adalah perkembangannya. Hal ini dikarenakan perkembangan perpustakaan sangat tergantung kepada masyarakat setempat dan penyelenggaranya. Karena ada bermacammacam golongan manusia yang memanfaatkan perpustakaan dan perpustakaan dapat diarahkan untuk bermacam-macam tujuan atau kebutuhan, maka ada beberapa jenis perpustakaan.
Sulistyo-Basuki mengklasifikasikan perpustakaan menjadi 2, yaitu:
a.       Menurut fungsinya, perpustakaan dibagi menjadi perpustakaan khusus dan perpustakaan umum.
b.      Menurut jenisnya menghasilkan kelompok perpustakaan khusus, perpustakaan umum, perpustakaan sekolah, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan nasional, dan perpustakaan pribadi.[11]
Lebih lanjut, perpustakaan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a.       Berdasarkan jenis koleksinya
1)      Perpustakaan umum, yaitu perpustakaan yang koleksinya terdiri dari berbagai bidang ilmu pengetahuan (bersifat umum)
2)      Perpustakaan khusus, yaitu perpustakaan yang koleksinya hanya khusus mengenai bidang ilmu pengetahuan tertentu, misalnya perpustakaan kedokteran, perpustakaan ilmu dan tekhnologi, perpustakaan musik, perpustakaan hukum, perpustakaan theologi, perpustakaan teknik mengarang dan sebagainya.[12]
3)      Perpustakaan Digital
Sebenarnya perpustakaan digital bukan merupakan salah satu jenis perpustakaan tersendiri, akan tetapi merupakan pengembangan dalam sistem layanan perpustakaan. Misalnya pada perpustakaan khusus atau perpustakaan perguruan tinggi.
Di dalam sistem tersebut tidak tampak secara fisik sumber informasi atau koleksi bahan pustaka, karena informasi tersebut sudah diubah bentuknya menjadi digital. Para pemakai perpustakaan dapat mengaksesnya melalui suatu peralatan tertentu. Oleh karena itu perpustakaan digital ada yang menyebut sebagai suatu perpustakaan maya (virtual library).
Cara akses informasi seperti itu sudah banyak digunakan, karena sangat praktis dan efektif, namun belum secara luas dapat dipakai oleh semua orang. Sebab memerlukan teknologi tinggi dan relatif mahal, sehingga belum semua perpustakaan mampu menyediakan fasilitas tersebut.[13]
b.      Berdasarkan pemakainya
Berdasarkan pemakai atau pengguna jasa layanannya, perpustakaan dapat dibedakan menjadi:
1)      Perpustakaan Sekolah
Perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang dikelola oleh sekolah dan berfungsi untuk sarana kegiatan belajar mengajar, penelitian sederhana, menyediakan bahan bacaan guna menambah ilmu pengetahuan, sekaligus rekreasi yang sehat disela-sela kegiatan belajar.[14] Pengguna perpustakaan ini terbatas pada civitas akademika yaitu guru, siswa dan karyawan sekolah.
2)      Perpustakaan Perguruan Tinggi
Perpustakaan Perguruan Tinggi yaitu perpustakaan yang dikelola oleh perguruan tinggi dengan tujuan membantu tercapainya tujuan perguruan tinggi. Keberadaan, tugas dan fungsi perpustakaan tersebut adalah dalam rangka melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.[15] Seperti halnya perpustakaan sekolah, pengguna perpustakaan perguruan tinggi tersebut yaitu mahasiswa, dosen, dan karyawan. Perpustakaan di perguruan tinggi biasanya masih dibagi lagi menjadi perpustakaan fakultas dan jurusan sesuai dengan fakultas dan jurusan yang ada di perguruan tinggi tersebut.
3)      Perpustakaan Umum
Perpustakaan umum merupakan perpustakaan yang menjadi pusat kegiatan belajar, pelayanan informasi, penelitian dan rekreasi bagi seluruh lapisan masyarakat. Perpustakaan umum merupakan satu-satunya perpustakaan yang masih dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu: (1) Perpustakaan umum kabupaten/ kota, (2) Perpustakaan umum kecamatan, (3) Perpustakaan umum desa/kelurahan, (4) Perpustakaan cabang, (5) Perpustakaan taman bacaan rakyat / perpustakaan umum taman masyarakat dan (6) Perpustakaan keliling.[16]
Baca selengkapnya