Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Wednesday, 5 October 2016

Godaan terbesar penghafal Al-Quran ternyata hanya satu!

DULUNYA IA HAFAL 30 JUZ, SEMUA HILANG TAK TERSISA KECUALI 2 AYAT SAJA



Lelaki gagah itu mengayunkan pedangnya menebas tubuh demi tubuh pasukan romawi. Ia adalah dulunya termasuk dari Tabi’in (270 H) yang HAFAL AL QURAN. Namanya adalah sebaik-baik nama, ‘Abdah bin ‘Abdurrahiim. Keimanannya tak diragukan. Adakah bandingannya di dunia ini seorang MUJAHID nan NAN HAFAL AL QURAN, terkenal akan keilmuannya, kezuhudannya, ibadahnya, puasa daudnya serta ketaqwaan dan keimanannya…???
Namun tak dinyana, akhir hayatnya mati dalam kemurtadan dan hilang semua ISI AL QURAN dalam hafalannya melainkan 2 AYAT SAJA YANG TERSISA. Ayat apakah itu?? Apakah penyebabnya..?? Inilah kisahnya :
Pedangnya masih berkilat-kilat memantul cahaya mentari yang panas di tengah padang pasir yang gersang. Masih segar berlumur merahnya darah orang romawi. Ia hantarkan orang romawi itu ke neraka dengan pedangnya.
Tak disangka pula, nantinya dirinyapun dihantar ke neraka oleh seorang WANITA ROMAWI, tidak dengan pedang melainkan dengan ASMARA.
Kaum muslimin sedang mengepung kampung romawi. Tiba-tiba mata ‘Abdah tertuju kepada seorang wanita romawi di dalam benteng. Kecantikan dan pesona wanita pirang itu begitu dahsyat mengobrak-abrik hatinya. Dia lupa bahwa tak seorangpun dijamin tak lolos su’ul khotimah.
Dia lupa bahwa maksiat dan pandangan haram adalah gerbang kekufuran. Tak tahan, iapun mengirimkan surat cinta kepada wanita itu. Isinya kurang lebih:
“Adinda, bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke pangkuanmu?”
Perempuan itu menjawab: “Kakanda, masuklah agama nashrani maka aku jadi milikmu.”
Syahwat telah memenuhi relung hati ‘Abdah sampai-sampai ia menjadi lupa beriman, tuli peringatan dan buta al quran. Hatinya terbangun tembok anti hidayah.
Khotamallaahu ‘ala qulubihim wa’ala sam’ihim wa’ala abshorihim ghisyawah… Astaghfirullah, ma’adzallah. Pesona wanita itu telah mampu mengubur imannya di dasar samudra. Demi tubuh cantik nan fana itu ia rela tinggalkan islam. Ia rela murtad.
Menikahlah dia didalam benteng. Kaum muslimin yang menyaksikan ini sangat terguncang. Bagaimana mungkin? How come? Bagaimana bisa seorg hafidz yang hatinya dipenuhi al qur’an meninggalkan Allah dan menjadi hamba salib?
Ketika dibujuk untuk taubat ia tak bisa. Ketika ditanyakan kepadanya, “Dimana Al Quran mu yang dulu???”
Ia menjawab, “Aku telah lupa semua isi Al Quran kecuali 2 ayat saja yaitu :
رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ
“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.”
ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖفَسَوْفَ يَعْلَمُونَ.
“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).”
[Q.S. Al Hijr : 2-3]
Seolah ayat ini adalah hujjah untuk dirinya, kutukan sekaligus peringatan Allah yg terakhir namun tak digubrisnya. Dan ia bahagia hidup berlimpah harta dan keturunan bersama kaum nashrani. Dalam keadaan seperti itulah dia sampai mati. Mati dalam keadaan MURTAD.
Ya Allah, seorang hafidz nan mujahid saja bisa Kau angkat nikmat imannya berbalik murtad jika sudah ditetapkan murtad, apatah lagi hamba yang banyak cacat ini. Tak punya amal andalan.
Saudaraku, doakan aku dan aku doakan pula kalian agar Allah lindungi kita dari fitnah wanita dan fitnah dunia serta dihindarkan dari ketetapan yang buruk diakhir hayat.
Ma taraktu ba’di fitnatan adhorro ‘ala ar rijaal min nisaa…
“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yg maha dahsyat bahayanya bagi lelaki kecuali fitnah wanita.” (muttafaq ‘alaih).
**Disarikan dari tulisan DR. Hamid Ath Thahir
Baca selengkapnya

Monday, 19 September 2016

Obat Nabi itu enggak ada yang Pahit! Cek yuk!!!!

Obat Nabi itu enggak ada yang Pahit! Cek yuk!!!!



Obat Nabi itu enggak ada yang Pahit! Cek yuk!!!!

Nabi mengajarkan hidup sehat,
istirahat cukup, makan yang cukup dan bekerja dengan sungguh-sungguh. beribadah jangan ditinggakan!

makanan yang halal dan baik sudah menjadi anjuran bagi setiap manusia khususnya umat muslim. Namun, beakangan beredar dengan beragam produk kimiawi yang cenderung memiiki efek samping dan berakibat fatal jika dikonsumsi sembarangan.sudah menjadi rahasia umum kalau obat-obatan kimia menjadi obat mujarab untuk menyebuhkan penyakit bagi sebagian rang sehingga mendahulukan obat dibandingkan mendahulukan yang memberi penyakit.
Sehat dan sakit sudah keniscayaann dan kepastiam, jadi obat yang efektif adalah obat yang dianjurkan oleh nabi, enggak pahit dan enggak menimbulkan efek samping yang fatal kalaupun dikonsumsi tanpa pengawasan dokter sehat itu mahal tapi minum obatnya jangan yang pahit-pahit dng


1. Jinten hitam
Dalam penelitian, diketahui bahwa jinten hitam adalah biji-bijian yang kaya akan asam lemak tak jenuh, anti oksidan, dan juga berbagai bioflavonoid. Jinten hitam bisa membantu meningkatkan kekebalan tubuh, disamping itu ada banyak penelitian yang menunjukkan khasiat jinten hitam dalam menyembuhkan berbagai penyakit, seperti alergi. Kareena sifatnya yang panas dan kering pada derajat tiga. Maka cocok untuk membakar lemak yang mempunyai sifat dingin.
Jinten hitam dinyatakan obat dari segala penyakit karena mujarabnya dalam mengatasi banyak problem kesehatan. Rasulullah menyatakan bahwa apabila penyakit sudah terkena obatnya, maka akan sembuh atas ijin Allah SWT.
” Hendaklah kamu menggunakan jinten hitam karena sesungguhnya padanya terdapat penyembuhan bagi segala penyakit kecuali kematian” ( H.R. Al-Bukhari, 5688 dan muslim, 5896)

2. Madu
Sudah banyak penelitian yang menunjukkan Bahwa madu murni dan bersih Sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia, bahkan bisa menyembuhkan berbagai penyakit seperti alergi, penyakit pencernaan, penyakit hati, paru-paru, dan kulit. Medu mengandung bahan-bahan yang bisa membunuh bakteri, kekuatan antimikroba dari madu ini lebih kuat dari antibiotik yang dikenal saat ini.
Madu juga bisa menyembuhkan penyakit diare kronis yang belum mampu diatasi dengan obat-obatan saat ini. Madu juga dapat mempercepat penyembuhan luka, bahkan luka berair oun madu dapat menyerap cairan dan mengeringkan luka.

” Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang Telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan ”
Buah thin
Rasulullah SAW. Bersabda,” Seandainya boleh kukatakan, sesungguhnya buah yang diturunkan dari surga adalah ini(buah thin), karena buah-buahan surga itu tidak berbiji. Maka makanlah kalian darinya. Sesungguhnya buah thin ini bisa memotong wasir dan bermanfaat mengatasi encok.
Penelitian menemukan bahwa buah thin mengandung kalsium dan fosfor yang tinggi yang tentunya memberi manfaat mengatasi encok. Adapun komposisi serat disamping kandungan gizi dan mineral lainnya, diyakini dapat menyembuhkan wasir.
3. Buah zaitun
Buah zaitun merupakan buah yang berasal dari pohon zaitun yang didalam Al-Qur’an disebut pohon yang diberkahi. Para ahli Menemukan kandungan omega 3 yang tinggi dalam minyak zaitun. Ini berarti minyak zaitun mempunyai khasiat dalam merawat dan melindungi kerusakan jantung dan pembuluh darah.
Penelitian disuatu wilayah yunani penduduknya mengkonsumsi minyak zaitun, Menunjukkan bahwa wanita pengkonsumsi munyak zaitun memiliki kecenderungan menderita kanker payudara dan kanker ovarium 26% lebih kecil dari yang tidak mengkonsumsinya. Rasulullah bersabda,” Makanlah zaitun, dan minyaki rambutmu dengan minyak zaitun, karena minyak zaitun dibuat dari pohon yang di berkati”.
Minyak zaitun juga dipakai dan terbukti menghaluskan kulit dan mempunyai efek menunda penuaan kulit.
4. Cuka
Khasiat cuka adalah sebagai anti bakteri dan basil di dalam pencernaan, sebagai obat insomnia dengan cara dicampur madudan diminum malam hari menjelang tidur.
5. Jahe
Air jahe adalah minuman Ahli surga. Al-Qur’an menggambarkan hal ini karena jahe bermanfaat bagi kesehatan. Penggunaan jahe adalah untuk mengencerkan dahak, meningkatkan daya tahan tubuh dan memperbaiki metabolisme, sehingga jahe sangat dianjurkan untuk pasien yang menderita batuk, kelemahan umum, dan untuk penyakit yang bersifat dingin termasuk hyporthyroidisme dan obesitas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa jahe mempunyai manfaat anti kanker, khususnya kanker hati, anti virus, dan anti oksidan.
Sedikit inforamsi tersebut , semoga memberikan wasasan kepada kita semua, sehat itu nikmat dan sakitpun demikian, jadi pertama temui Alah dulu kalaupun sakit, selanjutnya temui Allah lagi minta obatnya, seanjutnya pasrah sama Allah kalau sudah usaha.
Waktu Abu Bakar di gigit ular, cukup dengan air putih, waktu Ali kena panah ccukup dengan Sholat, Waktu umar kena pedang cukup dengan sholat. Karena sesungguhnya tanda sebelum kematian itu sakit dan bersyukurlah hamba yang beriman senang bertemu dengan Rabbnya. Tidak ada kesedihan padanya dan berapang daada para maliakat menyambut ruhnya.
Baca selengkapnya
KEBAHAGIAAN ITU HANYA PERKARA SUDUT PANDANG ? Benarkah?

KEBAHAGIAAN ITU HANYA PERKARA SUDUT PANDANG ? Benarkah?

BENARKAH KEBAHAGIAAN ITU HANYA PERKARA SUDUT PANDANG ?

Pernahkah anda bertemu dengan orang yang merasa paling apes sedunia? Merasa paling malang sedunia? Setidaknya orang itu melihat nasib dari sudut pandangnya sendiri. Saya yakin ada di sekitar anda yang merasa demikian. Atau malah mungkin anda sendiri yang merasa demikian? Ga perlu dijawab, jangan merasa tersindir, karna artikel ini untuk “ummat” bukan untuk seseorang semata. Jadi, cukup renungkan dan baca artikel ini sampai selesai hingga benar-benar bisa mengambil pelajarannya. InsyaAlloh…

Kembali ke permasalahan “apes”. Saya katakan kondisi apes atau malang menurut mereka yang merasa malang adalah kondisi yang terjadi karena seseorang mengalami sebuah peristiwa yang tidak menyenangkan dan membuat hati terasa sakit. Saking sakitnya, hingga membuatnya ingin memegang dada kirinya selama mungkin untuk menahannya lebih lama. “Emangnya ngaruh?” Anda tanyakan saja pada orang yang membuat istilah “sakitnya tuh di sini” hehe...Dengan kata lain, kondisi malang adalah kondisi ketiadaan kesenangan atau kebahagiaan dalam diri seseorang yang terjadi karena melihat kebahagiaan dari sudut pandang yang salah. Maka, untuk menghilangkan rasa paling malang sedunia adalah dengan cara melihat kebahagiaan dari sudut pandang yang benar, yaitu menciptakan "kebahagiaan" itu sendiri.

Gimana caranya? Bukankah Yang Maha Pencipta segala sesuatu itu Alloh Al-Waduud (Alloh Yang Maha Pencipta)? Itu benar, tapi kita sedang menggunakan istilah “menciptakan” untuk maksud yang lain, yaitu dimaksudkan untuk mendevinisikan bahwa datangnya kebahagiaan itu ada penyebabnya. Alloh-lah yang menciptakan “kebahagiaan” kemudian Alloh mengaruniakan kebahagiaan itu untuk hamba-Nya karena Alloh juga Al-Wahhaab (Maha Pemberi Karunia). Kebahagiaan adalah karunia dari Alloh dalam bentuk perasaan senang yang “tidak datang tiba-tiba”, yang kata orang Jawa mah “ora teko ujug-ujug”.
Untuk memahami proses sebab datangnya kebahagiaan itu sekaligus membangun suasana yang lebih ringan namun tetap islami, saya katakan setidaknya di antara sebab ketidakbahagiaan yang sering terjadi pada seseorang adalah karena seseorang underestimate (meremehkan) terhadap diri sendiri, ketiadaan motivator diri, tidak sabar dan tidak tawakkal pada Alloh SWT. “Kaifa yakuuna dzaalik ?” Kok bisa gitu sih?
Kita akan bahas mulai dari Underestimate. Suatu perkataan yang mencela atau menyudutkan diri sendiri seperti dengan kata “saya ga bisa”, “saya lemah”, “saya bodoh”, “saya jelek” dan lain semacamnya, itulah underestimate. Kata-kata itu jelas kata-kata yang dilarang dalam islam jika diniatkan untuk mencela, apa lagi mencela diri sendiri. Sedangkan "Alloh itu sesuai dengan prasangka atau keyakinan hamba-Nya". Ini Hadits Qudsi, Alloh langsung yang bilang (Lihat Syaroh Riyadush Sholihin Bab. 52 hadits pertama). Kalau kita memvonis diri kita dengan perkataan mencela diri disertai keyakinan, tentu Alloh tidak akan mendatangkan kebahagiaan itu karena kita sendiri, yang berkata tanpa pemahaman, sudah membuat “block” atau penghalang kebahagiaan itu untuk bisa datang. Kenapa? Karena Alloh sesuai dengan prasanga atau keyakinan hamba-Nya. Apalah jadinya jika seseorang dalam suatu upayanya, apapun itu, selalu bilang “saya penakut”, “saya pasti ga bisa” atau “saya lemah” ? Maaf, saya katakan orang seperti ini adalah orang yang kalah sebelum berperang. Bukan mendatangkan kebahagiaan namun mendatangan kemalangan diri sendiri karena banyak sekali potensi diri yang lupa disyukurinya.
Kemudian yang kedua adalah ketiadaan motivator. Saya tidak bilang kalau seseorang yang ingin menciptakan kebahagiaan harus ikut pelatihan ini dan itu untuk mencari pembicara handal sebagai motivator. Sederhananya begini, kalau seseorang melihat dengan kaca mata yang tawadhu, rendah hati, mau menerima nasihat orang lain yang sudah jelas berpengalaman dalam suatu hal, lebih-lebih teman dekat, maka akan banyak sekali sumber motivasi (dorongan melakukan kebaikan) yang bisa didapatkan. Jadi tidak perlu pembicara atau pemikir handal. Namun yang fatal, kebanyakan orang yang tidak berhasil menciptaan kebahagiaan itu karena ia selalu menghindar dari nasihat. Cobalah untuk menumbuhkan tawadhu dalam diri dengan tidak anti sosial, tidak suka menyendiri mengerjakan hobi, tidak merasa minder karena melihat orang lain serasa lebih beruntung, tidak selalu mencari jawaban sebagai pembenaran yang mengakibatkan orang lain tidak peduli lagi dan tidak kebiasaan bertanya “kenapa ini semua terjadi pada diri saya?” Kalau “To the poin” saya jawab, maka saya katakan, “segala kebaikan dan keburuan yang terjadi pada diri seseorang itu adalah hasil dari perbuatannya sendiri”. Terdengar keras menjawabnya namun itulah kenyataannya yang mau tidak mau harus kita hadapi. Biar tambah yakin, boleh di cek tafsir surat An-Nisa ayat 79, tafsirnya ya, bukan sekedar terjemahan yang singkat.
Artinya, kebahagiaan dan rasa kemalangan atau keapesan seseorang itu akibat perbuatannya sendiri. Namun kebanyaan orang tidak menyadarinya dan selalu mencari “kambing hitam” atau sesuatu yang layak untuk disalahkan atas kemalangan yang terjadi padanya. Nah, orang macam ini, biasanya kalau ada orang sedang menasihatinya, maunya nasihat itu langsung “berwujud sesuatu” sehingga bisa langsung menyelesaikan masalahnya alias instan tanpa ikhtiar, tanpa mengambil pelajaran yang terjadi. Saya katakan ini adalah pemahaman yang salah. Kalau orang tidak menyambut nasihat dengan baik karena menganggap hanya sekedar “kata”, dari mana seseorang akan mendapatkan motivasi untuk hidup bahagia? Tidakkah dia itu sadar bahwa sebenarnya orang terdekat yang mencoba menasihatinya adalah orang-orang yang menyayanginya? Orang seperti itu secara tidak langsung sudah menyakiti perasaan orang-orang terdekatnya. Bahkan juga secara tidak langsung sedang menutup pintu-pintu peluang kebaikan yang bisa datang kapan saja tanpa diketahui waktunya. Maaf, saya katakan orang yang tidak punya motivasi tujuan hidup adalah orang yang pandai mencari alasan namun tidak pandai mencari solusi. Ini bahaya, “naudzubillaahindzaalik”, kita berlindung pada Alloh dari hal yang demikian.
Kemudian yang ketiga adalah tidak sabar, “no patient”. Sabar bukan berarti ketiadaan tindakan diam menunggu sesuatu. Saya katakan, sabar adalah sebuah proses tindakan atau amal kebaikan yang harus terus berjalan karena menunggu datangnya pertolongan dari Alloh. Kalau pertolongan itu datangnya instan, maka itu bukan cara kerja pertolongan dari Alloh. Pasti akan ada sebab Alloh menolong hamba-Nya. Jadi mohon maaf, saya katakan orang yang tidak sabar seperti itu adalah orang yang mudah tenggelam di tengah laut, tidak mau berenang namun impiannya selalu di tepi pantai. Boleh jadi, pertolongan Alloh itu datang karena ke-tawadhu-annya sabar mendengarkan nasihat saudara, datang karena dia sabar sering bertemu dengan orang-orang yang lebih baik atau lebih sholih sehingga dia pun ikut “tertular” berkah dari ke-sholih-annya. Boleh jadi pertolongan Alloh itu datang karena kesabaran dalam men-dawam-kan (meng-ajeg-kan) atau merutinkan amal kebaikan (sholih). Boleh jadi juga pertolongan Alloh itu datang ketika semua dosa-dosanya sudah bersih oleh sebab sabarnya menghadapi kesulitan atau “jatuh bangunnya” berkali-kali dalam mengarungi samudera kehidupan? Who Knows? Man Ya’lam? Siapa yang tau? Namanya juga usaha, yang penting kita meyakini bahwa “Innaa Nashrolloohiqoriiib” sesungguhnya pertolongan Alloh itu dekat. Biar tambah yakin deh, boleh di cek bahwa pertolongan Alloh di tafsir QS. Al-Baqoroh ayat 214.
Kemudian yang terakhir adalah tidak tawakkal kepada Alloh. Tawakkal berarti bersandar pada Alloh SWT dalam upaya mencapai keinginan atau bersandar pada Alloh dalam upaya menghindari keburukan (Bisa dikoreksi di mutiara hadits pertama dalam Kitab Syaroh Riyadush Sholihin bab 7 oleh Dr. Dib Al-Bugho dkk). Jadi, hasilnya itu terserah Alloh saja, tugas kita ber-ikhtiar sepaket dengan berdoa. Ikhtiar itu tidak selalu hasilnya sesuai dengan apa yang kita harapkan, karena boleh jadi Alloh Yang Maha Luas Ilmunya punya sesuatu yang lebih baik dari sekedar apa yang kita harapkan melalui ilmu kita yang sempit. Ibaratnya begini, namanya dagang ga selalu untungnya sesuai yang kita harapkan, bisa jadi kurang bisa juga lebih. Di sinilah kondisi dimana kita harus bertawakal pada Alloh SWT karena Alloh bisa berehendak lain dengan banyak sekali peristiwa yang bisa terjadi diluar jangkauan pemahaman ilmu manusia. Maaf, saya katakan orang yang tidak tawakkal seperti itu adalah orang yang mudah kecewa, mudah menangisi hal yang ga penting dan mudah patah hati. Alloh-lah yang punya Ilmu Maha Luas dan punya rencana yang lebih baik. Namun manusialah yang terkadang “sok pintar” menganggap apa yang direncanakan itu yang terbaik, menganggap hasil yang diinginkannya itu baik untuk dirinya.
Wallohua’lam, Alloh yang lebih mengetahui, Alloh yang lebih luas pemahamannya dan Alloh yang mendatangkan kebenaran dari setiap apa yang kita sampaikan. Mudah-mudahan kita tergolong orang yang memiliki kebahagiaan, bukan lantaran keinginan yang selalu terpenuhi, namun karena pandai melihat kebahagiaan dari sudut pandang yang benar.
Baca selengkapnya
Cerita Motivasi, Harta, Pangkat Nak untuk Orang TUA!

Cerita Motivasi, Harta, Pangkat Nak untuk Orang TUA!

BENARKAH ORANG TUA AKAN BANGGA DENGAN HARTA, PANGKAT DAN JABATAN KITA ?

Ada sebuah kisah nyata yang cukup melankolis, mirip seperti drama korea, namun pesan di dalamnya bukan pesan percintaan biasa antara dua sejoli, namun pesan cinta pada orang tua dan pesan cinta pada Al-Quran yang menggetarkan hati. Sebut saja ada seorang anak SD namanya Umar, ia disekolahkan di sekolah terbaik, bahkan standar internasional. Siapalah diantara kita yang tidak mau menyekolahkan anak di sekolah yang bagus dan terbaik? Ayah umar yang berumur 50 tahunan memang menyekolahkan semua anak-anaknya di sekolah yang terbaik, dengan biaya yang tentu fantastis tidak sedikit, bahkan salah seorang anaknya yang paling tua nilainya cum laud. Ayah Umar termasuk pekerja keras, benar-benar pekerja keras, sehingga waktunya untuk berkumpul dengan keluarga hampir tidak ada.
Suatu hari, istrinya bilang “pa, hari sabtu ada fatrhers day di sekolahnya Umar, awas ya kalau ga dating”. Ayahnya mendengar kabar itu langsung lemes, sambil bergumam dia bilang “waduhh…paling acaranya juga begitu. Anak saya sudah 4, yang tertua sudah kuliah, masa masih harus hadir acara begitu?”. Tapi karna istrinya mengancam maka sang ayah terpaksa harus datang melupakan gengsi dan kesibukannya bekerja.

Waktu dia, ayah Umar, datang ke sekolah, ia tau isinya fatrhers day itu seperti apa. Nanti anak-anak disuruh tampil satu per satu, tampil ini dan tampil itu. Ada yang nyanyi, ada yang baca puisi, ada yang pidato dan lain sebagainya menampilan kebolehan-kebolehan mereka. Nanti setelah tampil ayahnya dipanggil satu per satu memeluk dan mencium menunjukan kasih sayangnya pada anaknya yang terlihat seperti pura-pura.

Para ayah yang yang umur 30an tahun sangat semangat duduk di depan. Karna ayah Umar umurnya 50an, maka dia duduk di belakang. Waktu acara dimulai oleh pembawa acara, persis sepeti apa yang dibayangkan oleh sang ayah. Ada yang baca puisi, nyanyi pidato dan lain-lain. Begitu tiba giliran Umar, Umar dipanggil oleh pembawa acara, “ayo Umar bin fulan”. Ayahnya Umar di belakang sambil mengeluarkan Smart Phone atau BB-nya pada saat itu kemudian bergumam, “paling juga dia mau nyanyi doang”. Maka begitu tampil, kemudian Umar ditanya oleh pembawa acara, “kamu mau menampilkan apa, nak?” Dijawab oleh umar, “boleh saya panggil Ustadz Arif?” Jawab pembawa acara “oh, boleh silahkan”. Kemudian pembawa acara mempersilahkan dan mengenalkan Ustadz Arif bahwa beliau adalah guru ekstrakulikuler, guru baca Al-Quran. Maka kemudain Ustadz Arif bertanya, “kamu mau tampilkan apa?” Jawab Umar, “Ustadz, boleh buka surat 78 surat Annaba?” Dijawab lagi oleh Ustadz Arif , “oh boleh”. Kemudian dibukalah surat An-Naba, “silahkan”, kata Ustadz Arif sambil mau memberikan Al-Quran-nya. “Tidak Ustadz, Ustadz aja yang pegang, aku akan membacanya”. Tanya ustadz arif kaget, “O, jadi kamu hafal?” Jawab Umar, “ya hafal” Begitu dia mau membaca surat An-Naba, maka semua ayah yang tadi bangga terhadap anak-anaknya lantas semua pqra ayah jadi terkejut.

Ini sekolah internasional, bukan pesantren, bukan majlis taklim. Anak ini membacakan dengan merdunya surat An-Naba dan ternyata dia juga hafal. MasyaAlloh..,Pada saat Umar membacakannya, mulai dari ayat pertama, "Ammma yatasaa Aluun" mata para ayah yang hadir pada acara tersebut, lambat laun mulai meleleh mendengar lantunan surat tersebut. Tadinya mereka, para ayah, bangga pada anak-anak mereka yang menampilkan segala kemampuan duniawi mereka, saat itu tiba-tiba mereka berkeinginan punya anak seperti Umar. Begitu umar sampai pada ayat terakhir..Innaa Andzarnaakum Adzaabanqoriibaa, Yaumayandzurul Mar’u maa Qoddamatyadaahu Wayaquulul kaafiruyaa laitaniii Kuntuturoobaa, Ayahnya Umar belum dipanggil tiba-tiba berdiri kemudian dari belakang berlari menghampiri anaknya, dia peluk anaknya, dia cium anaknya, maka kemudian terjadilah drama yang cukup mengharukan dalam acara tersebut.

Ketahuilah saudara-saudaraku semuanya...Al-Quran itu membanggakan, ke-sholih-an itu sangat membanggakan. Maka, usai mereka berpelukan dan menangis, kemudian pembawa acara bertanya pada umar “Umar, apa yang membuatmu ingin membacakan surat An-Naba di hadapan kami semua?” Jawab Umar dengan polosnya “Ustadz Arif bilang “jangan malas mengaji, Umar. Rajin-rajinlah membaca dan menghafalkannya karena Al-Quran akan membuat bangga orang tuamu”. Jadi aku ingin membuat bahagia orang tuaku nanti, aku akan membuat mereka bangga di akhirat nanti”.
Innawa'dalloohiHaq (Sesungguhnya janji Allooh itu benar). Alloh akan menjamin kebahagiaan orang tua berupa pahala kebaikan, manfaat dari kesholihan anaknya, ketika anaknya di dunia menjadi anak yang bertaqwa, anak yang sholih, termasuk juga anak yang pandai membaca Al-Quran. Sesuai dengan hadits dari Abu Hurairah r.a., ia berkata : "Rasulullah s.a.w. bersabda : "Apabila anak Adam - yakni manusia - meninggal dunia, maka putuslah amalannya - yakni tidak dapat menambah pahalanya lagi, melainkan dari tiga macam perkara, yaitu sedekah jariah atau ilmu yang dapat diambil kemanfaatannya atau anak yang sholih yang suka mendoakan untuknya (orang tuanya) (HR. Muslim)
Membanggakan orang tua atau membahagiakan orang tua, adalah kewajiban balas budi kepada orang tua bagi seorang anak. Namun sering kali kebanggaan yang diberikan sebagai balas budi itu berhenti di dunia saja. Umumnya orang tua akan dipandang baik oleh masyarakat, dipandang baik oleh tetangganya, dipandang baik oleh penduduk kampungnya, jika anaknya sukses, punya pangkat dan jabatan yang terhormat. Tapi ternyata tidak sedikit yang melupakan sisi yang dipandang oleh Alloh yang seharusnya menjadi rencana jangka panjang kebahagiaan orang tua di dunia maupun di akhirat, yaitu kesholihan seorang anak. Tidak salah sepenuhnya memang, membahagiakan orang tua dengan prestasi kita, harta kita, jabatan kita atau pangkat kita. Tapi itu masih kurang, kurang banget, karena kebanggaan atau kebahagiaan orang tua seperti itu HANYA BERHENTI DI DUNIA saja.

Tambahin lah dengan amal sholih, bahagiakan orang tua, buat orang tua kita bangga (bukan berarti ujub), dengan kesholihan yang efeknya berpengaruh hingga akhirat, kehidupan yang abadi.

Kejarlah dunia dengan tujuan ingin mendekatkan diri pada Alloh. Kejar semua prestasi, harta, pangkat dan jabatan itu asalkan semua itu membuat kita makin cinta dengan Al-Quran, cinta sedekah, cinta sholat Tahajjud, cinta Sholat dhuha, tapi kalau dengan mengejar dunia malah menjauhkan diri kita dari Alloh, maka Alloh tidak butuh pekerjaan-pekerjaan kita. Siapa yang memberi kita pekerjaan, siapa yang memberi kita bisnis, siapa yang memberi kita penghasilan, siapa yang memberi kita jabatan, siapa yang memudahkan kita mendapatkan pangkat kalau bukan Alloh? Tapi kalau dengan semua nikmat-nikmat dan pekerjaan itu kemudian membuat kita makin jauh dari Alloh, maka sekali lagi, Alloh tidak butuh semua pekerjaan-pekerjaan itu. Betapa mudahnya bagi Alloh mengambil nikmat itu sekejap mata. Wallohua'lam. Semoga Alloh mudahkan kita membuat orang tua bahagia di dunia hingga di akhirat. Amin

oleh : Indra Mulya
Baca selengkapnya
Poros kebahagiaan kehidupan di dunia dan di akhirat

Poros kebahagiaan kehidupan di dunia dan di akhirat

Poros kebahagiaan kehidupan di dunia dan di akhirat
 oleh: Yanto

Poros kebahagiaan kehidupan di dunia dan di akhirat adalah berpegang atau berlindung kepada Allah dan kepada tali Allah. Tidak ada keselamatan kecuali dengan dua perlindungan ini. Berpegang kepada tali Allah artinya berlindung dari kesesatan. Sedangkan berpegang kepada Allah artinya berlindung dari kebinasaan. Orang yang berjalan kepada Allah seperti orang yang sedang meniti suatu jalan menuju ke tempat tujuannya. Berarti dia membutuhkan penunjuk jalan dan keselamatan dalam perjalanannya. Dia tidak akan sampai ke tujuan kecuali dengan dua cara ini. Adanya petunjuk sudah cukup untuk menjaganya agar tidak tersesat dan sekaligus memberinya petunjuk jalan yang harus dilalui, begitu pula persiapan, kekuatan dan peralatan yang dapat melindunginya dari penghalang di tengah perjalanan.
Berpegang kepada tali Allah mengharuskan seorang hamba untuk
mendapatkan petunjuk dan keharusan mengikuti dalil. Sedangkan berpegang kepada Allah mengharuskannya memiliki kekuatan, persiapan dan peralatan serta perangkat yang mendukung keselamatannya di jalan. Karena itu ungkapan orang-orang salaf tentang berpegang kepada tali Allah ini bermacam-macam. Tapi yang pasti setelah mereka mengisyaratkan kepada makna ini.
Menurut Ibnu Abbas, artinya berpegang kepada agama Allah.

Menurut Mujahid dan Atha', artinya membuat perjanjian dengan
Allah. Sedangkan menurut Qatadah dan mayoritas mufassir, artinya adalah Al-Qur'an.
Ibnu Mas'ud mengatakan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,
"Sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah tali Allah, cahaya yang terang
benderang, obat penyembuh yang bermanfaat, perlindungan bagi
siapa yang berpegang kepadanya dan keselamatan bagi siapa yang mengikuti-nya."

semoga bermanfaat
Baca selengkapnya
Tempat persinggahan FIrasat, macam-macam Firasat

Tempat persinggahan FIrasat, macam-macam Firasat

Firasat
oleh: Yanto


Allah telah befirman kaitannya dengan tempat persinggahan firasat
ini,
"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tandatanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tandatanda."
(Al-Hijr: 75).
Menurut Mujahid, mutawassimin (orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda) di dalam ayat ini artinya orang-orang yang memiliki firasat.
Menurut Ibnu Abbas, artinya orang-orang yang memandang. Menurut Qatadah, artinya orang-orang yangmengambil pelajaran. Menurut Muqatil,
artinya orang-orang yang berpikir.
Tidak ada yang menyimpang dalam pendapat-pendapat ini. Sebab
orang yang memandang dan memperhatikan akibat dan kesudahan yang dialami orang-orang yang mendustakan, tentu akan mendapatkan fira-sat
dan pelajaran serta pemikiran. Allah befirman tentang orang-orang
munafik,
"Dan, kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka
kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya, dan kamu benar-benar mengenal mereka dengan kiasankiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kalian." (Muhammad: 30).
Mengenal yang pertama merupakan firasat pandangan dan mata,
sedangkan mengenal yang kedua merupakan firasat telinga dan
pendengaran.

Firasat ada tiga macam:
Firasat Pertama: Berkaitan dengan iman. Sebabnya adalah cahaya yang dimasukkan Allah ke dalam hati hamba, sehingga dia bisa membedakan antara yang haq dan batil, yang jujur dan yang dusta. Hakikatnya firasat ini menyusup ke dalam hati dan menajikan kebalikannya, melom-pat
ke dalam hati seperti melompatnya singa ketika menerkam mang-sanya.
Firasat ini tergantung pada kekuatan iman. Siapa yang imannya lebih kuat, maka firasatnya lebih tajam.
Abu Sa'id Al-Kharaz berkata, "Siapa yang memandang dengan cahaya firasat, maka dia memandang dengan cahaya kebenaran."
Al-Wasithy berkata, "Firasat merupakan pancaran cahaya yang
menyusup ke dalam hati, yang memungkinkan dapat mengetahui raha-siarahasi dalam hal-hal yang gaib, dari yang gaib kepada yang gaib, hingga dia dapat mengetahui sesuai seperti yang diperlihatkan Allah kepadanya."
Amr bin Najid menuturkan bahwa Syah Al-Karmany termasuk orang
yang tajam firasatnya dan tidak pernah meleset. Dia pernah berkata, "Siap yang menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan, menahan diri dari nafsu, mengisi batinnya dengan pengawasan Allah dan zhahir-nya
dengan mengikuti As-Sunnah serta biasa memakan yang halal, makafirasatnya tidak akan meleset."
Abu Hafsh An-Nisabury berkata, "Seseorang tidak boleh membual
tentang firasat, tetapi dia harus takut firasat dari orang lain. Sebab Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda, "Takutlah kalian terhadap firasat orang Mukmin, karena dia memandang dengan cahaya Allah."
Beliau tidak mengatakan, "Berfirasatlah kalian. Maka bagaimana mungkin seseorang membual mendapatkan firasat, padahal dia dalam posisi yang harus mewaspadai firasat?"
Suatu hari Al-Junaid berbicara dengan beberapa orang. Lalu ada
seorang Nasrani yang berdiri di hadapannya dengan sikap yang tidak kompromis, seraya bertanya, "Wahai Syaikh, apa makna sabda Muhammad,'Takutlah kalian terhadap firasat orang Mukmin, karena dia memandang dengan cahaya Allah?'"
Al-Junaid menundukkan kepala beberapa saat, lalu dia mengangkatnya lagi seraya berkata, "Masuklah Islam, karena kini sudah tiba saatnya bagimu untuk masuk Islam." Maka orang Nasrani itu pun masuk Islam.
Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang yang paling besar firasatnya dari umat ini. Sesudahnya adalah Umar bin Al-Khaththab. Tentang kete-patan firasat Umar ini sudah sangat terkenal. Jika dia berkata, "Kukira begini",
maka yang terjadi pun seperti yang dikatakannya itu. Bahkan firasat Umar ini juga sesuai dengan apa yang ditetapkan Allah. Firasat para shahabat adalah yang paling benar. Dasar jenis firasat ini berasal dari kehidupan dan cahaya yang dianugerahkan
Allah kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya, sehing-ga
hati mereka menjadi hidup, bersinar dan bercahaya, sehingga hampir hampir firasatnya tidak meleset.

Firasat Kedua: Firasat dengan cara latihan, membuat perut lapar,
tidak tidur malam dan menyendiri. Jika jiwa dibebaskan dari segala macam kaitan, maka ia akan memiliki firasat dan pengungkapan hakikat, tergantung dari porsinya. Firasat ini bisa didapatkan orang Mukmin dan kafir,
tidak menunjukkan kepada iman. Banyak orang bodoh yang terkecoh dengan firasat ini, karena banyak pendeta yang juga memiliki kejadiankejadian yang menakjubkan. Ini merupakan firasat yang tidak mengungkap kebenaran yang bermanfaat dan tidak dengan cara yang lurus.

Firasat Ketiga: Yang berkaitan dengan bentuk penciptaan, yaitu seperti yang diisyaratkan para dokter dan lain-lainnya. Mereka mengacu kepada bentuk penciptaan untuk mengetahui akhlak, karena memang ada kaitan yang erat antara keduanya, sesuai dengan hikmah yang ditetapka Allah, seperti pembuktian dengan kecilnya ukuran kepala yang lebih kecil dari ukuran secara normal, yang membuktikan kecilnya ukuran otak, yang
berarti menunjukkan sempitnya pikiran. Begitu pula sebaliknya.
Kebanyakan firasat dikaitkan dengan mata, karena mata merupakan cermin hati dan tanda yang tersimpan di dalamnya. Berikutnya dengan lisan, karena lisan merupakan utusan dan penerjemahnya. Dasar firasat juga bisa dikaitkan dengan penampilan, keliaran, keadaan rambut dan lain
sebagainya. Tapi masalah ini harus diperhatikan dan seseorang tidak boleh langsung membuat keputusan berdasarkan firasat semata. Sebabdalam keadaan seperti kesalahannya lebih banyak. Tanda-tanda ini hanya sekedar sebagai sebab dan bukan sesuatu yang pasti, yang hukumnya berbeda tergantung dari perbedaan syarat-syaratnya atau karena adanya perintang.
Pengarang Manazilus-Sa'irin berkata, "Firasat ialah menyimak hu-kum sesuatu yang tidak ada di tempat, tanpa meminta bukti kehadiran-nya."Maksudnya, jika engkau bisa melihat hukum sesuatu yang tidak ada di tempat. Jika dengan cara menyimak itu engkau bisa mengetahui hukumnya, maka itulah yang disebut firasat
Baca selengkapnya
Hal-Ha yang disukai Setan, Namun Dibenci Manusia!

Hal-Ha yang disukai Setan, Namun Dibenci Manusia!

Yang paling disukai syetan ialah
membuat hati hamba bersedih, Alloh berfirman ;
إِنَّمَا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَءَامَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (10
"Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syetan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita.sedangkan pembicaraan itu tiadalah memberi mudarat sedikit pun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal.
" (Al-Mujadilah: 10).


Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga melarang tiga orang
yang sedang berkumpul, sementara dua orang saling berbisik-bisik, karena yang demikian itu membuat orang yang ketiga bersedih hati. Kesedihan hati bukan sesuatu yang dituntut, tidak ada tujuan dan manfaatnya. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berlindung dari kesedihan hati, sebagaimana dalam doa beliau, "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekhawatiran dan kesedihan."

Tapi dari segi kenyataan hidup, memang tempat persinggahan ini
tidak bisa dihindari. Karena itu para penghuni surga berucap saat merek memasukinya,
"Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan hati dari kami." (Fathir:34).
Hal ini menunjukkan bahwa dahulunya mereka pernah mengalami
kesedihan hati, selagi masih di dunia, sebagaimana mereka ditimpa musibah-musibah lain tanpa menghendakinya. Sementara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda dalam sebuah hadits shahih,

"Tidaklah seorang Mukmin ditimpa kekhawatiran, keletihan dan kesedihan hati, melainkan Allah mengampuni sebagian dari kesalahan-kesalahannya."
Ini menunjukkan bahwa itu semua merupakan musibah yang ditimpakan Allah kepada hamba, agar dengan begitu Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya, bukan karena menunjukkan kedudukan kesedihan hati ini yang merupakan tuntutan.
Sedangkan hadits Hindun bin Abu Halah yang berkata mensifati
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Bahwa beliau selalu tampak bersedih hati", ini hadits yang sama sekali tidak kuat dan di dalam isnadnya ada seseorang yang tidak diketahui. Di samping itu, bagaimana mungkin beliau senantiasa bersedih hati, padahal beliau telah dijaga Allah agar tidak bersedih hati karena tidak mendapatkan dunia dan sebab-sebabnya,
dilarang bersedih hati dalam menghadapi orang-orang kafir, dan dosadosa beliau yang lampau maupun yang akan datang sudah diampuni? Lalu apa yang membuat beliau harus senantiasa bersedih hati? Beliau adalah orang yang senantiasa banyak senyum dan manis muka. Begitu pula riwayat yang mengatakan, "Sesungguhnya Allah mencintai setiap hati yang banyak bersedih." Isnad riwayat ini tidak diketahui, begitu pula siapa yang meriwayatkannya. bahwa ada hadits yang shahih dan ada ayat yang menggambarkan kesedihan, maka maksudnya adalah musibah yang ditimpakan kepada hamba.
Yang pasti para ulama telah sepakat bahwa kesedihan hati di dunia bukan sesuatu yang terpuji,

jangan bersedih, niscaya Allah akan melapangkan segala urursan dan yakinlah, kesedihan didunia hanya sementara. bersabarlah atas setiap sesuatu yang belum sesuai dengan keinginan dan besykurlah terhadap apa yang sudah Allah tetapkan...
Baca selengkapnya
Cari Allah, Sebelum mencari  yang Lain!

Cari Allah, Sebelum mencari yang Lain!



Cari Allah, Sebelum mencari  yang Lain!

Judulnya dibuat sederhana , semoga isinya bisa nambah kekuatan iman, keberkahan amal dan tentunya kebermanfaatan hidup. Siapa sih yan enggak mau imannya terus nambah meningkat dan kokoh, akidah bagus, ibadah keren dan sedekah berkah. Siapa juga yang enggak mau terus bersama kebaikan, menjalani kehidupan dengan baik dan behusnuzon terus enggak berfikir yang aneh-aneh. Dan yang ketiga nih tentang kebermanfaat hidup, duh ngomongin kebermanfaatan hidup kayaknya sederhana banget, bisa nolong orang kesusahan, bisa bantu tetangga yang lagi butuh, bisa ngasih nasihat keren ama yang lagi galau-galau.
Tentu, kita semua mau dan kepingin menjadi bagian dari orang-orang yang

1.       Imannya terus nambah dan kokoh
2.       Amalnya penuh keberkahan, dan
3.       Hidup bermanfaat

Nah, buku kecil ini dimaksudkan untuk itu, untuk tujuan sederhana itu, isinya gak pake ayat-ayat Al-quran, tapi rujukan dan sumbernya gak menyimpang dari Alquran. Isinya tentang pemikiran, tentang pendapat, dan tentang urusan pribadi penulis sendiri yang semoga bisa juga buat temen-temen yang lagi ngerasain kesulitan, ngerasain kebimbangan, ngerasain kesendirian dan ngerasain kehidupan yang kayaknya jauh dari kata bahagia. Buku ini sebagai teman dan bukan jadi pedoman, karena pedman yang jelan Cuma Al-qurannulkarrim. Jadikan buku sederhana ini sebagai tambahan untuk pengetahuan aja dan sebagai tambahan informasi.

Isinya sederhana, ngutip sana-ngutip sini, buku-buku orang-orang besar, sumber-sumber keren dan disampaikan dengan ulasan sederhana, karena orang yang nulis lagi mencurahkan maksud tentang bagaimana mengatasi masalah dan mengurai pengalaman-pengalaman sederhana, pertemuan-pertemuan sederhana dan amalan-amalan sederahan dari ilmu yang diperoleh dari guru, buku dan dari Allah.

Doain penulis bisa hafal Al-quran, cita-citanya sederhana; bisa hafal Al-quran, bisa jadi bagian dari orang-orang yang Allah pilih untuk mendawamkan Al-quran, bisa memuliakan Al-quran dan bisa mengamalkan Al-quran. Semoga penulis bisa menjaga diri dari golongan orang-orang yang lalai, dari golongan orang-orang yang zdolim dan dari golongan orang-orang yang sesat dan semoga kita semua termasuk temen-temen semua menjadi sahabat di surga nanti, bisa bertemu dan kumpul bareng merayakan kebahagiaan..aamiin
Baca selengkapnya