Showing posts with label Bahasa. Show all posts
Showing posts with label Bahasa. Show all posts

Wednesday, 14 July 2021

MODUL DIGITAL BAHASA INDONESIA INTERAKTIF

MODUL DIGITAL BAHASA INDONESIA INTERAKTIF




 MODUL DIGITAL INTERAKTIF 

Modul interaktif ini bisa digunakan menggunakan Handphone ataupun PC, berisi pembelajaran yang lebih interaktif dengan integrasi video, suara, teks, quis dan lain-lain, Sehingga memudahkan dan membuat peserta didik lebih cepat memahami materi Bahasa Indonesia, SMP kelas VII, SMP kelas VIII, SMP kelas IX, dan SMA kelas X, SMA kelas XI, dan SMA kelas XII.


Modul Digital Interaktiv SMP Semester 1

Modul Digital interaktif Bahasa Indonesia kelas VII

Modul Digital interaktif Bahasa Indonesia kelas VIII

Modul Digital interaktif Bahasa Indonesia kelas IX


Modul Digital Interaktiv SMP Semester II

Modul Digital interaktif Bahasa Indonesia kelas VII

Modul Digital interaktif Bahasa Indonesia kelas VIII

Modul Digital interaktif Bahasa Indonesia kelas IX


Modul Digital Interaktiv SMA Semester I

Modul Digital interaktif Bahasa Indonesia kelas X

Modul Digital interaktif Bahasa Indonesia kelas XI

Modul Digital interaktif Bahasa Indonesia kelas XII


Modul Digital Interaktiv SMA Semester II

Modul Digital interaktif Bahasa Indonesia kelas X

Modul Digital interaktif Bahasa Indonesia kelas XI

Modul Digital interaktif Bahasa Indonesia kelas XII


Silakan untuk klik link tersebut dan modul interaktif akan langsung bisa dibuka,

Semoga bermanfaat












Baca selengkapnya

Monday, 19 September 2016

Strukturalisme Genetik, Histori

Strukturalisme Genetik, Histori



Historitas teori strukturalisme genetik. Orang yang dianggap sebagai peletak dasar madzhab genetik adalah Hippolyte Taine (1766-1817) seorang kritikus dan sejarawan Francis. Ia mencoba menelaah sastra dari presfektif sosiologis dan mencoba mengebangkan wawasan sepenuhnya ilmiah dalam pendekatan sastra seperti halnya ilmu scientific dan exacta. Menurutnya bahwa satra tidak hanya karya yang bersifat imajinatif dan pribadi melainkan suatu perwujudan pikiran tertentu pada saat karya itu lahir. Ini merupakan konsep ginetik pertama tetapi metode yang digunakan berbeda, setiap tokoh mempunyai metodenya masing-masing. Tetapi kesamaan konsep setruktur hanya pada konteks hubungan phenomena konsep. Lucien Goldman (1975) seorang Marksis adalah orang yang kemudian mengembangkan fenomena hubungan tersebut dengan teorinya yang dikenal dengan strukturalisme genetic. Pada prinsifnya teori ini melengkapi sutrukturaisme murni yang yang hanya menganalisis karya sastra dari aspek intristiknya saja dan memakai peranan bahasa sastra sebagai bahasa yang khas. Strukturaisme genetic memasukan faktor genetik dalam karya sastra, genetik sastra artinya asal usul karya sastra. Adapun faktor yang terkait dalam asal muasal karya sastra adalah pengarang dan kenyataan sejarah yang turut mengkondisikan saat karya sastra iu diciptakan. Ditambah lagi ia memasuki struktur sosial dalam kajiaannya yang membuat teori ini dominan pada priode tertentu terutama di Barat dan Indonesia.

Pendekatan strukturalisme genetic ialah pendekatan yang mempercayai bahwa karya sastra itu merupakan sebuah struktur yang terdiri dari perangkan kategori yang saling berkaitan satu sama lainnya sehingga membentuk yang namanya struktularisme geneti kategori tersebut ialah fakta kemanusiaan yang berarti struktur yang bermakna dari segala aktifitas atau prilaku manusia baik yang verbal maupun maupun fisik yang berusaha di pahami oleh pengetahuaan. Semua aktivitas itu merupakan respon dari subjek kolektif (subjek trans individual) dalam dunia sastra transindividual subjek yang artinya terjadi kesamaan rasa dan pikiran antara pengarang (penulis) karya sastra dengan para pembaca dalam memahami karya sastra atau fakta manusia tadi, terus pandangan dunia terhadap subjek kolektif (Trans individual Subject) fakta kemanusiaan dan terakhir adalah struktur karya sastra menurut Goldman karya sastra merupakan produk strukturasi dari transindividual subject yang mempunyai struktur yang koheren dan terpadu terus karya sastra merupakan ekspresi pandangan dunia secara imajiner dan dalam mengekspresikan pandangan dunia tersebut pengarang menciptakan semesta tokoh-tokoh, objek-objek dan relasi relasi secara imajiner dalam pendapat tersebut golman mempunyai konsep struktur yang bersifat tematik. Yang menjadi pusat perhatiaannya ialah relasi antara tokoh dengan tokoh dan tokoh dengan obyek yang ada disekitarnya.

Teori strukturalisme genetik ialah sebuah teori yang menjelaskan struktur dan asal muasal struktur tersebut dengan memperhatikan relevansi konsep homologi, kelas sosial yang dimaksud Goldman adalah kelas yang mempertahankan relevansi struktur dan ia menggunakan metode dialektika yang menekankan dan merpertimbangkan koherensi struktural yang berbeda jauh dengan Marxisme yang menapikan struktur dan metodenya menggunakan positivistik yang mengingkari relevansi dan koherensi struktur, subjek transindividual ini berarti sebagai subjek dalam menciptakan karya sastra yakni penulis harus bisa menyampaikan perasaan dan pikiranya kepada pembaca dalam novel misalnya supaya pembaca bisa memahami dan mengerti apa yang disampaikan penulis dan terjadi sama rasa dan pikiran dalam memahami karya sastra atau novel tadi dan pandangan dunia pengarang terhadap subjek kolektif (transindividual subject) dan fakta manusia menurut Goldman ada 3 tahap dalam melakukan penelitiaan sastra menggunakan teori strukturalisme genetik, yakni;

· Tesis merupakan informasi apa yang di perlukan berupa data
· Antitesis merupakan pemberian opini terhadap realitas, anti tesis ini melebur dengandengan tesis dan memeberikan suatu opini pada relitas/sintesis
· Dan terakhir sintesis berupa realitas dan kembali lagi menjadi tesis kembali.
Dan terus strukturasi tersebut berputar, berkaitan, saling mengisi dan berkoherensi sehingga teori ini terus berkembang juga dianggap teori yang berhasil memicu kegairahan analisis penelitiaan sastra pada khususnya dan pada umumnya penelitiaan meneliti aspek pengetahuaan lain yang lebih komplit dibandingkan dengan teori structural yang lainnya.
Prosedur (metode) teori strukturalisme genetik terhadap penelitian karya yang agung (master face ) menurut goldman sebagai berikut:
· Penelitiaan karya sastra dilihat dari satu kesatuaan
· Karya sastra yang dianalisis hanyalah karya yang mempunyai nilai sastra yang mempunyai tegangan (tention) antara keragaman dan kesatuaan dalam sesuatu keseluruhan yang padat (a coherent whole).
· Jika kesatuaan telah ditemukan, kemudiaan dianalisis hubungannya dengan latarbelakang social. Sifat hubungan tersebut, a) yang berhubungan dengan latarbelkang social adalah unsure kesatuaan, b) latar belakang yang dimaksud pandangan dunia suatu kelompok social, yng dilahirkan oleh pengarang sehingga hal tersebut dapat di kongkretkan.

Kelebihan teori strukturaisme genetic.kalau dibandingkan dengan strukturalisme murni dan dinamik, strukturalisme ginetik mempunyai keungulan yang dominan ketimbang kedua teori structural tersebut sejajar denggan strukturalisme dinamik, strukturalisme ginetik dikembangkan atas dasar penolakan terhadap analisis strukturalisme murni yang menganalisis karya sastra terhadap struktur intristik saja. Baik strukturalisme genetic maupun dinamik menolak peranan bahasa sastra sebagai bahasayang khas, bahasa sastra. Perbedaannya strukturalisme dinamik terbatas dalam melibatkan peranan penulis dan pembaca dalam rangka komunikasi sastra, strukturalisme genetic melangkah lebih jauh ke struktur social dan karya sastar dapat dipahami dari asalnya dan terjadinya (unsure genetik) dan latarbelakang social tertentu.

Kekurangannya mungkin konsep strukturalisme dalam perkembangannya seperti yang disebut Raymond Boudond (1976) adalah konsep yang kabur mungkin karena hubungan antara tesis, antitesis dan sintesis yang saling berkaitan, mengisi dan melebur menjadi konsep ini kabur atau tak jelas sulit untuk mendapatkan simpulan yang pasti. Terus yang terakhir dalam objek membedah karya sastranya sturkturalisme genetic harus karya sastra yang besar, yang kuat (master face) berarti ada pembatasan dalam menganalisis dan syarat untuk meneliti suatu genre sastra menurut standar teori ini yakni karya sastra yang agung.

Asumsi strukturalisme genetic terhadap karya sastra adalah karya sastra yang agung, karya sastra yang kuat (besar) merupakan syarat karya sastra untuk di teliti. Karya sastra yang kuat sebagai mana dikemukakan goldman adalah yang mempunyai kesatuaan (unity) dan keragaman (complexity) yakni didalamnya terdapat kategori-kategori yang saling bertaliaan satu sama lain yang membentuk strukturalisme genetic yakni kateori-kategori tersebut ialah; fakta kemanusiaan, subjek kolektif (trans individual subject), stukturasi, pandangan dunia pemahaman dan penjelasan. Terus karya satra merupakan sebuah struktur tetapi struktur itu bukanlah sesuatu yang setatis melainkan produk dari proses sejarah yang terus berlangsung, proses ses- strukturisasi dan destruktusi yang hidup dan dihayati oleh masyarakatasl karya yang bersangkutan.
dikutip dari;

 http://ukonpurkonudin.blogspot.com/2010/04/perbandingan-teori-strukturalisme-murni.html
Baca selengkapnya
Sosiologi Sastra, Cerpen "Bulan Desember"

Sosiologi Sastra, Cerpen "Bulan Desember"

SOSIOLOGI SASTRA

1. Pengantar
              Sosiologi sastra sebagai suatu jenis pendekatan terhadap sastra memiliki paradigma dengan asumsi dan implikasi epistemologis yang berbeda daripada yang telah digariskan oleh teori sastra berdasarkan prinsip otonomi sastra. Penelitian-penelitian sosiologi sastra menghasilkan pandangan bahwa karya sastra adalah ekspresi dan bagian dari masyarakat, dan dengan demikian memiliki keterkaitan resiprokal dengan jaringan-jaringan sistem dan nilai dalam masyarakat tersebut (Soemanto, 1993; Levin, 1973:56). Sebagai suatu bidang teori, maka sosiologi sastra dituntut memenuhi persyaratan-persyaratan keilmuan dalam menangani objek sasarannya.
              Istilah "sosiologi sastra" dalam ilmu sastra dimaksudkan untuk menyebut para kritikus dan ahli sejarah sastra yang terutama memperhatikan hubungan antara pengarang dengan kelas sosialnya, status sosial dan ideologinya, kondisi ekonomi dalam profesinya, dan model pembaca yang ditujunya. Mereka memandang bahwa karya sastra (baik aspek isi maupun bentuknya) secara mudak terkondisi oleh lingkungan dan kekuatan sosial suatu periode tertentu (Abrams, 1981:178).
              Sekalipun teori sosiologis sastra sudah diketengahkan orang sejak sebelum Masehi, dalam disiplin ilmu sastra, teori sosiologi sastra merupakan suatu bidang ilmu yang tergolong masih cukup muda (Damono, 1977:3) berkaitan dengan kemantapan dan kemapanan teori ini dalam mengembangkan alat-alat analisis sastra yang relatif masih lahil dibandingkan dengan teori sastra berdasarkan prinsip otonomi sastra.
              Teori-teori sosiologi sastra mempersoalkan kaitan antara karya sastra dan 'kenyataan'. Sebenarnya teori sosiologi sastra inilah yang paling tua usianya dalam sejarah kritik sastra. Dalam kenyataannya, teori yang sudah dirintis oleh filsafat Plato (Abad 4-3 SM) tentang 'mimesis' itu baru mulai dikembangkan pada abad 17-18 — yakni zaman positivisme ilmiah — oleh Hippolite Taine dan berkembang pesat pada awal abad ke-19 dengan dicanangkannya doktrin Manifesto Komunis oleh Marx dan Engels.
              Studi-studi sosiologis terhadap sastra menghasilkan pandangan bahwa karya sastra dalam taraf tertentu merupakan ekspresi masyarakat dan bagian dari suatu masyarakat. Kenyataan inilah yang menarik perhatian para teoretisi sosiologi sastra untuk mencoba menjelaskan pola dan model hubungan resiprokal itu. Penjelasan Taine dengan menggunakan metode-metode ilmu pasti menarik perhatian, namun ciri positivistis dalam teorinya menimbulkan permasalahan yang rumit mengenai hakikat karya sastra sebagai 'karya fiksi'. Teori-teori Marxisme, yang memandang seni (sastra) sebagai 'alat perjuangan politik' terlalu menekankan aspek pragmatis sastra dan dalam banyak hal mengabaikan struktur karya sastra.
              Pemikir-pemikir Neomarxis memanfaatkan filsafat dialektika materialisme Marx untuk mendefinisikan aspek ideologi, politik, dan hubungan ekonomi suatu masyarakat. Asumsi epistemologis mereka adalah bahwa sastra menyimpan sejarahnya yang sebenarnya dan menjadi tugas studi sastra untuk mendefinisikannya secara jelas.
              Dalam pembuatan esai yang saya buat, lebih menakankan kemungkinan terciptanya sebuah cerpen yang berjudul “Bulan Desember”  adalah karena sebuah peristiwa yang bisa saja sudah terjadi, sedang terjadi dan mungkin akan terjadi di suatu masyarakat, karena sastra merupakan bagian dari pengalaman, pengamatan, dan pengimajinasian.


2. Aspek  Sosial Dalam cerpen “Bulan Desember”

1.      Tokoh Utama
Hubungan komunikasi dan kedekatan sosial yang terdapat dalam cerpen tersebut adalah sebuah gambaran tentang kondisi kehidupan masyarakat yang ada di dalamnya, bisa terlihat dari kutipan berikut.
Masalahnya banyak sekali yang berhubungan dengan Bu Geni. Semua penduduk yang ingin mengawinkan anaknya, pilihannya hanya satu: Bu Geni, juru rias pengantin. Banyak perias pengantin lain, tapi tak bisa menyamai Bu Geni. Bahkan setelah banyak salon, pilihan tetap pada Bu Geni.

Kutipan di atas menggambarkan kehidupan tokoh utama, Bu Geni sebagai perias pengantin, menafkahi kehidupan dari riasan, walaupun tidak secara terperinci menelursuri kehidupan keluarga tokoh, namun dapat terlihat bahwa bu Geni adalah sosok yang menjalani kehidupan dengan apa-adanya tanpa perlu memaksakan kehendak ataupun menolok kehendak Tuhan, hal itu dapat terlihat dari kutipan berikut.

Kenapa dulu kawin dengan Pak Geni?
”Ya karena sudah waktunya kawin, seperti yang lain.”
Berarti tidak atas dasar cinta ketika menikah dengan Pak Geni?
”Seperti halnya jodoh, begitu kamu nikah ya itu harus diterima sebagai cinta. Itu lebih penting. Karena kalau mengandalkan cinta sebelumnya, bisa tidak langgeng. Yang kamu miliki itulah yang kamu cintai, dengan cinta sebelumnya atau tidak.”
Pertanyaan itu terlontar, karena ada kabar Pak Geni akan menikah lagi. ”Ya biar saja, nanti aku akan merias pengantinnya.” Kalimatnya enteng, datar, nyaris tanpa emosi. ”Dilarang juga susah, dan tak ada gunanya. Boleh saja.”
Mungkin itu sebabnya Bu Geni tetap bersedia merias calon pengantin yang akan menjadi istri kedua, atau ketiga. ”Biarlah orang merasakan kegembiraan sekali dalam hidupnya.” Bagi Bu Geni perkawinan adalah kegembiraan, sukacita. ”Kalau saat kawin saja kamu tidak merasa gembira, kamu tak akan menemukan kegembiraan yang lain.”
Apakah ada sosok yang seperi Bu Geni dalam kehidupan sehari-hari?bisa saja tidak ada dan bisa juga ada, karena karya merupakan rekayasa yang tentunya di luar logika manusiapun bisa terjadi.

2.      Sosial Masyarakat

Kehidupan sosial yang dapat terlihat dari cerpen berjudul Bulan Desember, adalah mengisahkan kehidupan tukang perias, yaitu Bu Geni dengan pemasalahan yang timbul saat-saat prosesi pernikahan,
Menurut yang sudah-sudah, Bu Geni bukan perias biasa. Beliau mampu mengubah calon pengantin perempuan menjadi sedemikian cantiknya sehingga benar-benar manglingi, tak dikenali lagi. Salah satu keistimewaan beliau adalah menyemburkan asap rokok ke wajah calon pengantin. Menurut tradisi, katanya ini disembagani, dijadikan seperti kulit tembaga. Bukan emas. Hampir semua perias pengantin memakai cara yang sama, namun tak ada yang menyamai kelebihannya. Pernah dalam satu hajatan, tuan rumah pingsan karena disangka anak perempuan yang dinikahkan kabur. Ibu calon pengantin pingsan, bapak calon pengantin malu, dan sanak saudara mulai mencari ke teman-temannya. Padahal, sang calon pengantin ada di rumah. Bahkan setelah ditemukan, ibu calon pengantin masih menolak: ”Itu bukan anak saya. Itu bukan anak saya.”
”Ya sudah kalau bukan anakmu, berarti anakku. Ayo kita pulang.”
Baru kemudian ibu calon pengantin sadar, dan mengatakan: ”Bagaimana mungkin anakku bisa secantik ini?”
Hal, biasa yang sering terjadi pada kehidupan sosial masyarakat adalah adanya sebuah mitos-mitos, ataupun suatu peristiwa atau kejadian yang dikaitkan dengan sebab-sebab yang dapat berakibat pada kejadian-kejadian aneh.
Sewaktu ketemu calon yang dianggap berwajah muram, Bu Geni berkata: ”Tak bisa, kamu harus ceria dulu.” Padahal, undangan sudah disebar. Tempat resepsi sudah diberi uang muka. Yang lebih penting lagi, makanan sudah dipersiapkan. Kisah ini menjadi biasa kalau berakhir dengan pembatalan. Yang tak biasa adalah dua hari kemudian ada bis terjun ke jurang. Menurut perhitungan, kalau benar perkawinan diadakan tanpa pembatalan, kemungkinan besar calon pengantin pria masuk jurang, karena memang rencananya naik bis itu pada jam itu. Kisah Bu Geni bersambung ketika diminta merias anak menteri—mungkin menteri koordinator, tapi menjawab: ”Anaknya suruh ke sini saja. Kalau saya tinggalkan yang di sini, banyak yang dirugikan.”
Dan suatu peritiwa dikaitkan dengan kehidupan tokoh utama
Para pejabat di desa ikut gembira, karena kalau Bu Geni tidak mengibarkan bendera pada peringatan kemerdekaan bisa jadi masalah. Tanggal 31 Desember berikutnya Bu Geni tidak berkeberatan ada pesta di rumahnya. Namun esok harinya tidak berarti tahun baru, melainkan 1 Desember lagi. Banyak yang mengatakan itu ngelmu Bu Geni sehingga selalu tampak muda. Dan Bu Geni memang selalu nampak sama, ketika seorang tetangga dirias, sampai anaknya dirias juga. Wajah dan penampilannya tetap sama. Ini bisa dibuktikan dengan potret yang diambil saat itu, dan 20 tahun berikutnya. Atau mungkin juga 20 tahun sebelumnya.
Dalam respon masyarakat yang ditimbulkan karena sikap aneh Bu Geni, dapat menjadi kesimpulan atas keadaan yang memang hal semacam itu bisa saja terjadi di kehidupan sosail masyarakat Indonesia yang cenderung aneh kepada hal-hal yang ghoib.
Begitulah Bu Geni yang juru rias pengantin, telah merias semua perempuan di desanya. Boleh dikatakan semuanya yang kawin dan yang tidak. Yang terakhir ini dilakukan Bu Geni pada mayat perempuan yang meninggal sebelum menikah. Sebelum dikuburkan, Bu Geni merias dengan komplet. Banyak yang tidak setuju, banyak yang menyayangkan, banyak yang menjadi takut dirias. ”Ketakutan terwujud pada perkawinan. Takut terlalu bahagia, terlalu bebas, terlalu nikmat, makanya kita mengikatkan diri pada perkawinan yang banyak mengatur tanggung jawab, mengatur kewajiban. Termasuk memberi nafkah, membesarkan anak-anak. Aneh saja, tapi pada dasarnya kita takut dengan kebahagiaan diri kita sendiri, dan membatasi dengan adanya kuasa Tuhan.”
Kutipan di atas, memperlihatkan kondisi masyarakt yang masih tetap menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain, dan berakibat kepada yang lain, halnya yang ada dikehidupan sehari-hari, masyarakat cenderung cepat menrima jika yang menjadi pembicaraan adalah tokoh yang memiliki nama besar, dan menjadi perbincangan hangat yang sangat lama untuk bisa hilang dalam pemberitaan, kadang-kadang juga masyarakat cenderung mencari-cari sebab ataupun akibat perbuatan dari tokoh tersebut sehingga menjadi sesuatu yang terbaru dan dibarukan, untuk dinikmati oleh masyarakat.


3. Mitos Dalam Masyarakat

Semua manusia percaya bahwa dikehidupan dunia ini ada makhluk yang hidupnya berada diluar kehidupan nyata; setan, iblis, jin dan sebangsanya, yang menjadi perbincangan seru dalam kehidupan manusia. Dalam pandangan yang lebih nyata berbicara dengan hal-hal yang mistis kadang mengundang geli, tawa dan rasa yang begitu mendebarkan, antara percaya dan tidak membuat penasaran, seolah melihat, merasakan dan bahkan berada dalam kehidupan yang tidak nyata, tentunya masyarakat dalam negeri sudah terbiasa dengan hal yang semacam itu, dan akan lain halnya jika seseorang  yang memiliki keanehan dan kelebihan yang tentunya akan menjadai perhatian yang lebih oleh masyarakat umum.
Tindakan-tindakan yang dilakukan menjadi perhatian bahkan perbincangan yang jarang akan habis, ada saja yang selalu masyarakat keluarkan untuk menambah kelebihan atau kekurangan seseorang yang memiliki keanehan dan kelebihan, terutama masalah dan kejadian yang menyangkut hal-hal mistis (ghoib). Cerpen “Bulan Desember” menceritakan peristiwa yang memang menarik perhatian pembaca, karena yang ditampilkan adalah sosok yang sepertinya biasa-biasa saja, akan tetapi menjadi pusat yang lebih bagi penulis. Perias pengantin yang bertugas hanya membuat calon pengantin lebih cantik dengan tambahan pemutih wajah, serta hiasan-hiasan kulit dengan warna-warni yang memikat, jika hanya sekedar itu yang dibicarakan dalam cerpen tersbut tentu akan sangat membosankan dan tidak akan menjadi cerpen yang enak dibaca.
Kelihaian penulis menggambarkan sosok perias yang sepertinya adalah sosok yang mengerikan, dapat terlihat dari namanya Bu Geni, yang kalau dijadikan bahasa jawa maka namanya menjadi ‘api’ karena kata /geni/ (bahasa jawa) merupakan ‘api’, tentu hal semacam itu sangat mengerikan, karena tidak menyangka yang dalam cerita tersebut bahwa wajah bu Geni tidak berbeda, dari 20 tahun sebelum dan sesudahnya, adalah keanehan yang sungguh meemikat pembaca untuk mendalami kehidupan tokoh utama.
Selain itu, penulis juga menampilkan kepribadian tokoh utama yang cederung biasa saja menjalani kehidupan, tanpa merasa terbebani, menikah ya tinggal menikah, berbcerai tinggal bercerai, dan tokoh utama memiliki kepribadian yang cukup patuh pada prinsip kehidupanya yang hal semacam inilah membuat pembaca bisa lebih mendalami kalimat-kalimat bijak yang terdapat dalam kalimat tersebut.
Latar pengarang jawa, identik budaya ghoib sepertinya meikat penulis
Pada akhir cerita, penulis menggambarkan perasaan wanita, yang dalam keadaan sebenarnya terhadap lelaki atau suami, yang dapat terlihat bagaimana respon tokoh utama saat ditanya apakah ingin bercerai dengan suaminya, karena sudah menikah berulang-ulang kali, dan jawaban yang lugas dan jelas.
Apakah Bu Geni pernah berpikir bercerai dengan Pak Geni.
”Saya tak pernah memikirkan bercerai. Kalau ingin membunuhnya, sering.”
Tentunya dengan keadaan yang seperti itu, dapat terlihat bagaiman fitrah manusia yang memiliki perasaan lebih terhadap pasanganya, yang tentunya tidak ingin diduakan, dan hal yang biasa juga akan didapati dalam kehidupan masyarakat bahwa yang terbaik adalah yang benar-benar menjadi terbaik, bukan hanya hiasan umum, untuk menarik perhatian. Dan kita percaya bahwa semua yang terjadi di dunia ini semuanya adalah kepastian Tuhan yang telah tertulis dalam kitabnya, dan akan menjadi pertanggung jawaban prib adi ketika menhadapa Tuhan nanti.
Baca selengkapnya
Nilai Sosial dan Kehidupan, Dalam Cerpen

Nilai Sosial dan Kehidupan, Dalam Cerpen



Nilai Sosial dan Kehidupan

Karya Sastra merupakan karya imajinatif yang mempunyai hubungan erat dengan hal-hal di luar karya sastra. Faktor sejarah dan lingkungan ikut membentuk karya sastra, karena karya sastra itu ditulis oleh pengarang sebagai anggota masyarakat yang mengambil ide dari peristiwa yang terjadi di masyarakat itu sendiri. Demikian juga dengan cerpen Anak Kebanggaan Karya A.A Navis yang menjadi Objek dalam analisis ini.

Cerpen  Anak Kebanggaandengan latar kejadian tentang harapan orang tua, menampilkan tokoh-tokoh yang penuh problematika yaitu Ompi (sebagai Ayah) dan Indra Budiman (sebagai anak) dalam hubungannya dengan tokoh lain maupun lingkungannya. Problematika tokoh-tokoh tersebut mencerminkan pandangan pengarang sebagai orang pertama yang mengisahkan kejadian tersebut dalam menyikapi realita dan imajinasi pengarang dalam hal hubungan dengan masyarakat yang terjadi. 

Memperhatikan latar belakang pengarang cerpen “Anak Kebanggaan”, A. A Navis merupakan pengarang yang cukup iamjinatif dan kreatif, kreatifnya itu membuatnya menjadi pengarang berkualitas. Dalam sejarah sastra Indonesia, beliau mengaku dalam hal memulai penulisan adalah sejak tahun 1950 dan mulai diakui oleh media cetak pada tahun 1955, sudah menhasilkan karya 65 karya sastra dalam berbagai bentuk. Ia telah menulis 22 buku, ditambah lima antologi bersama sastrawan lainnya, dan delapan antologi luar negeri, serta 106 makalah yang ditulisnya untuk berbagai kegiatan akademis di dalam maupun di luar negeri dan dihimpun dalam buku Yang Berjalan Sepanjang Jalan. Novel terbarunya, Saraswati, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2002.

A.A Navis telah memperlihatkan kapasitasnya sebagai pengarang garis utama dalam sejarah sastra Indonesia. Hal demikian dapat dibaca pada karyanya yang kontoversial  berupa cerpen yang  Robohnya Surau Kami dengan menampilkan imajinasi pada sesosok Nabi, Malaikat, dan Percakapan Adam, dan Nabi-Nabi lain bersama Tuhan dalam menyikapi suasana masyarakat kota Jakarta yang sduah jauh dari nilai-nilai moral agama, dengan menggambarkan situasi yang cukup menjijikan dan cukup realita terjadi di kota tersebut.
Cerpen berjudul Anak Kebanggaan  merupakan karya fiksi  yang dapat dihubungkan dengan dunia realita atau sosialogi sastra. Dengan demikian pendekatan strkturlalisme genetik yang melihat hubungan karya sastra dengan realitas sosial masyarakat. menyajikan kehidupan yang sebagian besar terdiri atas kenyataan sosial. Ada persamaan antara sosiologi degan sastra sehingga teks sastra dapat dikaji melalui pendekatan sosiologi, sosiologi merupakan telaah yang objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat dan telaah lembaga dan proses sosial. .
"Ah, Anakku," katanya pada diri sendiri, "Aku bangga, Anakku. Baik engkau jadi dokter. Karena orang lebih banyak memerlukanmu. Dengan begitu kau disegani orang. Oooo, perkara uang? Mengapa tiga ribu, lima ribu akan kukirim, Anakku. Mengapa tidak?",
suatu kalimat yang akan biasa diucapkan oleh orang tua, kepada anak-anaknya yang bila dalam doanya adalah kebaikan. Menjadi harapan yang tak akan pernah sirna oleh waktu. Namun dalam hal ini pengarang menampilkan tokoh yang berlebihan dalam berharap kepada anaknya, sehingga tidak semua orang tua memiliki obsesi yang sama dengan tokoh Ompi, bias diaktakan secara pribadi, pengarang adalah berusaha menampilkan sosok yang mungkin pernah terjadi di daerahnya, dan bisa diajdikan pandangan bagi setiap orang tua, untuk tidak berlibahan dalam hal kemajuan dan kesuksesan anaknya, jangan samapai melupakan Tuhan yang telah mengatur kehidupan manusia.
Pengarang dalam menampilkan kehidupan masyarakat adalah dengan menampilkan daerah yang sesuai, daerah Sumatra yang biasa dengan kehidupan merantau, dan dalam hal meminang dengan kondisi budaya masyrakat sekitar
Karena di kampung kami pihak perempuanlah yang datang meminang.”, tampilan yang dengan jelas digambarkan oleh pengarang yang tentunya latar tempat adalah daerah Sumatra, dan bisa jadi adalah daerah pengarang tinggal yaitu Padang.
Kehidupan social yang terjadi menajdi inspirasi dalam kehidupan bermasyarakat, dan tentunya karya yang memiliki amanat yang mendalam bisa menajdi pelajaran bagi pemabcanya, ada nilai-nilai kehidupan yang patut untuk diterpakan dala kehidupan bermasyarakat.
Baca selengkapnya